Kamis, 22 Januari 2015



Keselarasan Antara Ketawang Larasmaya Dengan Pernikahan Adat Jawa

Sadimin A310120259
adi.awan34@yahoo.com
Pendidikan Bahasa Sasatra Indonesia dan Daerah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Surakarta

ABSTRAK
Perkawinan merupakan sebuah fase peralihan kehidupan manusia dari masa remaja ke masa berkeluarga (Sutardjo 2012:82). Perkawinan bagi masyarakat jawa merupakan sesuatu yang sakral, sehingga diharapkan dalam menjalaninya sekali seumur hidup. Setiap daerah tentunya mempunyai adat istiadat yang berbeda mengenai upacara pernikahan, sebagai orang tanah jawa penulis dalam hal ini akan membahas mengenai keselarasan antara lirik lagu (gendhing) ketawang larasmaya dengan adat pernikahan dijawa. Lirik lagu (gendhing) merupakan suatu karya dan hasil pemikiran seseorang yang mana karya ini termasuk dalam karya sastra. Tentunya karya ini bisa diapresiasi serta dapat dinikmati masyarakat. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS. Ar-Ruum : 21). Dalam kajian ini peneliti menggunakan ilmu sastra bandingan yang mana kajian satra bandingan belum begitu dikenal dalam kegiatan penelitian  ilmiah pada masyarakat Indonesia. Sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan ilmu sendiri (Damono dalam Yosi Wulandari 2014:14). Perbandingan merupakan salah satu metode yang juga digunakan dalam penelitian.

Kata kunci : Perkawinan, Gendhing, Sastra Bandingan


A.  Latar Belakang Masalah
Perkawinan merupakan sebuah fase peralihan kehidupan manusia dari masa remaja ke masa berkeluarga (Sutardjo 2012:82). Perkawinan bagi masyarakat jawa merupakan sesuatu yang sakral, sehingga diharapkan dalam menjalaninya sekali seumur hidup. Setiap daerah tentunya mempunyai adat istiadat yang berbeda mengenai upacara pernikahan, sebagai orang tanah jawa penulis dalam hal ini akan membahas mengenai keselarasan antara lirik lagu (gendhing) ketawang larasmaya dengan adat pernikahan dijawa.
Lirik lagu (gendhing) merupakan suatu karya dan hasil pemikiran seseorang yang mana karya ini termasuk dalam karya sastra. Tentunya arya ini bisa diapresiasi serta dapat dinikmati masyarakat. Kelahiran karya sastra tidak dapat dipisahkan dari keberadaab karya sastra yang mendahuluinya, yang pernah diciptakan oleh para sastrawan sebelumnya baik dari dalam dan luar negeri. Pada mulanya, dalam menciptakan karyanya seorang sastrawan tersebut melihat, meresapi, dan menyerap teks-teks lain yang menarik perhatiannya baik secara sadar atau tidak. Berlatar dari pernyataan inilah perlu adanya kajian mengenai adanya hal tersebut.
 Dalam kajian ini peneliti menggunakan ilmu sastra bandingan yang mana kajian satra bandingan belum begitu dikenal dalam kegiatan penelitian  ilmiah pada masyarakat Indonesia. Sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan ilmu sendiri (Damono dalam Yosi Wulandari 2014:14). Perbandingan merupakan salah satu metode yang juga digunakan dalam penelitian. Dengan demikian, uraian yang digunakan dalam sastra bandingan tentunya bersandar pada dasar banding-membandingkan. Sastra sebagai bagian dari kebudayaan, ditentukan antara lain oleh geografi dan sumber daya alam yang dapat menyusun suatu masyarakat dan menentukan tata nilai. Dalam karya sastra perlu di banding-bandingkan agar jelas mengenai persamaan dan perbedaan di berbagai kebudayaan.



B.  Landasan Teori
Sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan ilmu sendiri (Damono dalam Yosi Wulandari 2014:14). (Remak dalam Damono 2005:2) dalam Yosi menyatakan bahwa kajian sastra diluar batas-batas sebuah negara dan kajian hubungan di antara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan yang lain seperti (misalnya seni lukis, seni ukir, seni bina, dan seni musik), filsafat, sejarah, dan sains sosial (politik ekonomi, sosiologi), sains, agama, dan lain-lain. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek tertentu dan tempat. Dalam satra bandingan kajian sastra dapat dilakukan dengan mengambil hanya dua karya sastra, misalnya dua sajak, dari sastra nasional yang berbeda.
Selain itu sastra bandingan mencakup pula kajian tentang hubungan karya-karya sastra dengan berbagai bidang diluar kasusastraan, misalnya dengan ilmu pengetahuan, agama, dan karya seni. Remak mengungkapkan pendapatnya sebagai berikut: sastra banding adalah studi sastra yang melewati batas suatu negara serta hubungan antara sastra dan bidang pengetahuan dan kepercayaan lain. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS. Ar-Ruum : 21).
Panggih adalah prosesi bertemunya pengantin perempuan dengan pengantin pria usai akad nikah,” kata ketua panitia Dhaup Ageng Kanjeng Raden Tumenggung Yuddohadiningrat. Salah satu cara yang dipakai untuk melambangkan bersatunya dua insan yang berlainan jenis dan syah menurut agama dan hukum adalah pernikahan setiap daerah mempunyai tata upacara pernikahannya sendiri-sendiri. Dalam kesempatan ini penulis akan mengkaji upacara pernikahan adat jawa yang dihubungkan dengan keselarasan ketawang larasmaya.


C.  Metode Penelitian
Dalam penelitian ini mengunakan metode penelitian sastra perbandingan, yang mana sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan ilmu sendiri (Damono dalam Yosi Wulandari 2014:14). Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek tertentu dan tempat. Dalam satra bandingan kajian sastra dapat dilakukan dengan mengambil hanya dua karya sastra, misalnya dua sajak, dari sastra nasional yang berbeda.

D.  Pembahasan
1.    Tata cara upacara Panggih
a.    Liron kembar mayang
Bertukar kembar mayang antar pengantin bermakna menyatukan rasa cipta dan karsa untuk bersama mewujudkan kebahagiaan.
b.    Gantal
Daun sirih digulung kecil didalalmnya ada uang receh, isi kacang panjang, bawang, trasi, tempe busuk. Dan ditali dengan merang yang dilempar oleh masing-masing pengantin dengan harapan godaan akan hilang dengan lemparan tersebut.
c.    Ngidak endog
Pengantin pria menginjak telur jawa sampai pecah melambangkan kematangan kedua pengantin.
d.   Mencuci kaki pengantin pria
Dengan harapan dengan bunga setaman mampu membersihkan benih yang diturunkan bersih dari perbuatan kotor.
e.    Timbangan
Bapak pengantin putri duduk diantara keduanya dan di pangku semua pengantin dengan maksud kedua pengantin sudah seimbang .
f.      Kacar kucur
Pengantin putra mengucurkan prnghasilan kepada pengantin putri demgan maksud suami bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarganya.



2.    Pranatacara pawiwahan pinanganten (Perkataan yang digunakan saat Prosesi Panggih )
Para tamu kakung sumawana putri, wus dumugi wahyaning mangsakala laksitaning upacara panggih anut satataning adat widhiwidana ingkang sampun sinengker. Wondene para paraga ingkang piniji nun inggih: Ingkang mratitisaken panggih putra temanten panjenenganipun Ibu ....... Ingkang hanganti temanten kakung Bapa ..... dalasan Bapa ...... Ingkang nyamektakaken uba rampening panggih Ibu ...... saha Ibu ........ Dhumateng sanggya para tamu, keparenga jumeneng sawetawis saperlu paring puji pangestu dhumateng panggihing temanten. Awit saking panjurung pangestu panjenengan sami, mugi upacara panggih punika kalis ing rubeda nir ing sambekala. Rahayuning sedya kasumanggakaken dhumateng panjenenganipun para2 ingkang piniji. Panggihing temanten kabiwadha ungeling gangsa Kodok Ngorek kalajengaken Ketawang Larasmaya laras pelog pathet barang. Sumangga, nuwun.

3.    Lirik Gendhing Ketawang Larasmaya
Sak punika sampun rawuh (sekarang sudah datang )
Temanten kakung lan putri ( pengantin laki-laki dan perempuan )
Pindha sasongkan tumingal (dua sejoli yang sudah terlihat )
Kembar cumlorot mblerengi ( dua orang yang serasi yang menjadi perhatian )
Weh sukaning kang tumingal (bahagia yang terlihat )
Prasasat ketiban rukmi ( seperti mendapat wahyu )
Pindha jawata tumurun (dua sejoli yang turun )
Komajaya komaratih ( komajaya dan komaratih )
Dewa dewane asmara (dewanya asmara )
Kang agung tansah akarih ( yang kuasa meridhoi )
Palepatan kanthen asta (kesalahan yang dilakukan )
Tuhu dhahat milangoni ( menanti dengan sabar dan tabah )
Punika ta candranipun ( itulah jika diibaratkan )
Temanten kakung lan putri ( pengantin laki-laki dan perempuan )
Berkahing tamu sedaya ( menjadi berkah bagi semua yang hadir )
Kang temanten mugi mugi ( penganting berdua semoga )
Kalisa ing sambekala ( terhindar dari marabahaya )
Tulus widada lestari ( tulus dan langgeng serta menjadi keluarga bahagia )
Kiraku pancen wus mungguh ( apa yang dipikirkan sudah tecapai )
Narkuba budaya yekti ( menghormati budaya agung )
Tata kanthining panembah ( dilaksanakan dengan ridho gusti )
Sebaren ingkang kaeksi ( menyebar dengan rasa suka )
Dadi kang sarwa rinipta ( jadilah orang bewawasan )
Gunamani trus nyawiji ( berjanji dan bersatu )

4.    Upacara Setelah Panggih 
a.    Krobongan
            Tinon wus paripurna upacara panggih, satuhu trep pindha curiga panggih kaliyan warangka. Bebasan getih rong tetes, daging rong tempel, balung rong ceklek, samangka wus manunggal dadya sajuga. Sang jejaka miwah sang kenya mangkya wus manunggal ing karep, nunggal sedya, nunggal tekad, nunggal ati, nunggal raga, nunggal jiwa. Paraning sedya ninggal alam jejaka miwah kenya, saperlu sesarengan lelayaran ing samodraning gesang, angayahi darmaning kodrat. Jejering gesang kedah jejodhohan minangka sarana nangkaraken wiji kinarya lestarining tumuwuh. Para tamu kakung sumawana putri, ngancik adicara salajengipun nun inggih upacara krobongan anut satataning adat widhiwidana ingkang sampun lumampah. Upacara krobongan punika antawisipun: timbangan, kacar-kucur, dulangan saha ngunjuk rujak degan. Wondene ingkang badhe mratitisaken lampahing upacara krobongan nun inggih panjenengnipun Ibu.......Dhumateng ingkang tinanggenah, wekdal saha papan kawula sumanggakaken. Lampahing upacara krobongan binarung ungeling Ladrang Sri Widodo laras pelog pathet barang. Sumangga, nuwun.



b. Badhe rawuhipun besan
Panjenenganipun para tamu kakung sumawana putri ingkang satuhu luhuring budi, madyaning suka ing kalenggahan punika boten kekilapan kadang besan sutresna nun inggih yayah rena putra temanten kakung, lekasing sedya ugi nderek mangayubagya keparengipun Bapa Y ingkang hamiwaha putra mahargya siwi, manjing wonten sasana pawiwahan, ginarubyuk sagunging para Kadang Santana. Rawuhipun gya pinapag saha ingacaran panjenenganipun Bapa....... lajeng kalarapaken saha katampi panjenenganipun Bapa.......... Menggah rawuhipun kadang besan kabiwadha ungeling Ladrang Tirta Kencana laras pelog pathet nem. Sumangga, nuwun.

c. Badhe upacara sungkem
Sanggya para tamu, kadang besan sutresna panjenenganipun Bapa Ibu .... sampun lenggah aben ajeng kaliyan panjenenganipun Bapa Ibu ..... wonten sasana ingkang sampun sumadya, keparenging sedya badhe hanampi sungkeming putra temanten sarimbit. Dumateng para ingkang piniji rahayuning sedya kasumanggakaken. Tumapaking adicara sungkeman binarung ungeling Ladrang Mugi Rahayu laras slendro pathet manyura ( Sekar Pangkur Paripurna laras pelog pathet nem). Sumangga, nuwun.

d. Badhe pambagyaharja
Para tamu kakung sumawana putri, panjenenganipun Bapa .... badhe marak ngabyantara sami, saperlu ngatruraken pambagyaharja, miwah wudharing gantha, lekas wekasing sedya, wigatosing gati. Inggih kabekta saking raos bombong miwah mongkoging manah, karana karoban ing sih sedaya ingkang sampun kepareng hanjenengi, saengga boten kuwawi matur piyambak, jrih menawi boten saged kawiyos ing lathi, namung kandheg wonten ing jangga, mila lajeng hanyaraya dhumateng panjenenganipun Bapa ..... Ing salajengipun dhumateng para ingkang piniji, sasana saha swasana kawula sumanggakaken. Sumangga, nuwun.

e. Bakdha pambagyaharja
                 Satuhu tatas titis terang gamblang wijang wijiling pangandika, kaduk ruruh hangarah prana panjenenganipun Bapa .... anggenipun ngaturaken pambagyaharja miwah wosing gati sampun paripurna. Ing salajengipun, keparenga para tamu pinarak ing palenggahan kanthi mardu-mardikaning penggalih sinambi nglaras rarasing gendhing saking pita swara ngantos dumugi parpurnaning panghargyan. Sumangga, nuwun.

f. Badhe kirab kanarendran
Sanggya para tamu, keparenging sedya temanten sarimbit badhe jengkar saking sasana wiwaha, arsa kinirapaken wonten ngarsaning para tamu, tumunten manjing ing sasana busana, saperlu rucat busana kanarendran, santun busana ksatriyan. Tataning kirab sinanggit ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Kados sampun samekta ing gati para paraga ingkang badhe njengkaraken putra temanten, menggah kaleksananing sedya kawula sumanggakaken dhumateng para ingkang piniji. Jengkaring Sang Suba Manggala, lamun cinandra kawistara piyaking ngarsa tangkep ing wuri Gendhing Ayak-ayakan laras pelog pathet barang [binarung ungeling Sekar Pangkur Gedhong Kuning laras pelog pathet barang]. Wondene jengkaring temanten sarimbit saking sasana wiwaha tumuju sasana busana binarung ungeling Ketawang Langengita Sri Narendra laras pelog pathet barang. Sumangga nuwun.

g. Badhe kirab kasatriyan
Para tamu kakung sumawana putri ingkang winantu sagunging pakurmatan, kados putra temanten anggenipun ngrasuk busana kasatriyan sampun paripurna, keparenging sedya badhe humarak sowan malih ngabyantara para tamu, saperlu nyenyadhang pudyastawa mrih widadaning bebrayan. Kirabing putra temanten ngrasuk busana kasatriyan kabiwadha ungeling Ketawang Subakastawa laras slendro pathet sanga. Sumangga nuwun.
E.  Kesimpulan
Melalui pembahasan yang sudah dipaparkan, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa adanya suatu keselarasan antara antara gendhing larasmaya dengan upacara adat pernikahan di Jawa khususnya daerah Jawa Tengah. Dengan adanya kajian ini penulis dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa adat serta kearipfan lokal memang perlu dilestarikan untuk menjadikan ciri khas suatu daerah, dalam hal ini kita membahasa mengenai suatu budaya, maka jangan mengaitkan budaya yang ada dengan agama, dengan adanya adat yang sudah dilakukan secara turun temurun akan menambah cagar budaya yang ada di indonesia khususnya daerah Jawa Tengah.

F.   Saran
            Dalam penyusunan tulisan ini tentunya masih banyak kekurangan serta banyak ketidaksempurnaan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun untuk dijadikan evaluasi dalam penulisan selanjutnya.

G.  Persantunan
Dalam hal ini penulis ucapkan banyak terima kasih atas selesainya tulisan ini, penulis ucapkan syukur alhamdulillah pada:
1.    Allah SWT yang telah memberikan kesempatan iman dan islam serta meberikan hidayah dan inayahnya kepada penulis sehingga mampu berfikir dengan jernih.
2.    Yosi Wulandari, M.Pd selaku dosen mata kuliah Sastra Bandingan UMS yang telah bersedia membimbing saya dalam penulisan karya ilmiah ini.
3.    Teman-teman yang sudah membantu saya dalam penulisan ini.
4.    Kedua orangtua saya yang telah memberikan motivasi dan membiayai.
5.    Dan semua pihak yang terlibat dalam penulisan ini yang tidak bisa saya sebut satu persatu.


H.  Daftar Pustaka
Al-Quran Surat Ar-ruum:21
Anonim.2005.Adat Istiadat Jawa diunduh diinternet pada tanggal 17 Desember 2014 dengan alamat http://www.karatonsurakarta.com
Butogamo; 20-03-10 pukul 10:47 AM.
Sukasno,Eko.2004.Cakepan Gendhing-Gendhing Bedhayan.Sragen:Eko Sukasno
Sumarsono.2007.Tata Upacara Pengantin Adat Jawa.Jakarta:PT.Buku Kita
Sutardjo,Imam.2012.Kajian Budaya Jawa.Surakarta.Sastra Daerah UNS
Hardjodikromo,Mangun.2005.Adat Istiadat Jawa:Manusia Jawa Sejak Dalam Kandungan Sampai Wafat diunduh diinternet pada tanggal 17 Desember 2014 dengan alamat http://www.samarasanta.wordpress.com
http://www.tempo.co/read/news/2013/10/19/058522954/Ini-Ritual-Lengkap-Panggih-Pengantin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar