Senin, 28 September 2015

A.      Judul Penelitian
Analisis Kalimat Optatif  (harapan) pada Pidato Upacara Bendera Hari Senin di SMP Negeri 2 Kartasura
B.       Pendahuluan
1.    Latar Belakang Masalah
Kata “penelitian” merupakan terjemahan dari bahasa Inggris “research”. Mc. Millsn dan Schumancher mendefinisikannya sebagai berikut: “research is a systemic process of collecting and analyzing information (data) for some purposes.”, yang artinya penelitian adalah suatu proses sistematis tentang pengumpulan dan penganalisisan informasi atau data untuk maksud-maksud tertentu. Penelitian didefinisikan oleh banyak penulis sebagai suatu proses yang sistematik. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah yang dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah (Emzir,2007:3). Creswell (2012: 3) menyebutkan “Research is a process of steps used to collect and analyze information to increase our understanding of a topic or issue., yang artinya penelitian adalah proses atau langkah-langkah yang digunakan dalam mengumpulkan dan menganalisa informasi untuk meningkatkan pemahaman suatu topik atau masalah. Dari definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian merupakan upaya dan proses yang sistematis tentang pengumpulan data untuk meganalisa dan memecahkan suatu masalah.

Penelitian menjadi salah satu kompetensi wajib yang harus dikuasai oleh mahasiswa S-1, S-2 dan S-3. Berbagai kegiatan ilmiah dapat dilakukan melalui prosedur ilmiah, sistematis, empiris, dan logis. Semua itu menjadi dasar-dasar ilmiah dalam penelitian dasar pendidikan. Pada   waktu sekarang ini semakin dirasakan betapa pentingnya fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Kenyataan yang dihadapai adalah selain ahli-ahli bahasa, semua ahli yang bergerak dalam bidang pengetahuan yang lain semakin memperdalam dirinya dalam bidang teori dan praktik. Semua orang menyadari bahwa interaksi dan segala macam kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh tanpa bahasa.
Mengingat pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi dan memperhatikan wujud bahasa itu sendiri, kita dapat membatasi pengertian bahasa sebagai: “bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia” (Keraf, 2004:1. Bahasa mempunyai fungsi sebagai alat komunikasidan kontrol sosial diharapkan dengan bahasa manusia mahir dalam berbahasa baik dalam bahasa tulis maupun bahasa lisa, agar mereka yang mendengar atau diajak bicara dengan mudah dapat memahami apa yang dimaksudkan.
Sebagai seorang guru harus menjadi contoh peserta didik dalam menguasai keterampilan berbahasa terutama keterampilan berbicara, dengan kemampaun berbicara yang baik seorang guru menjadi sosok yang dirindukan oleh peserta didik. Untuk membimbing peserta didik seorang guru mempunyai banyak strategi dalam mengarahkan serta mengingatkan jika peserta didik melakukan kesalahan. Dengan upacara bendera setiap hari senin merupakan momentum yang tepat untuk mengingatkan siswa untuk berbuat lebih baik serta banyak harapan guru kepada peserta didik supaya menjadi siswa yang berkompeten. Mengingat peserta didik dari tinjauan anthopologi peserta didik dapat didefinisikan peserta didik sebagai makhluk yang bermasyarakat dan dapat dimasyarakatkan, sehingga pendidikan harus menyentuh upaya sosialisasi dan pembudayaan, artinya pendidikan harus dapat membimbing peserta didik agar hidup bermasyarakat( dapat membentuk watak bermasyarakat) dan sebagai sarana transmisi kebudayaan dalam Marsudi dkk (2013:2).
Peserta didik merupakan orang/individu yang mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya agar tumbuh dan berkembang dengan baik serta mempuyai kepuasan dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh gurunya (Prihatin, 2011:4).. Dalam penelitian ini penulis membahas mengenai Analisis Kalimat Optatif  (harapan) pada Pidato Upacara Bendera Hari Senin di SMP Negeri 2 Kartasura Dalam kegitan ini difokuskan pada kalimat optatif oleh guru pada upacara hari senin. Dengan penelitian ini diharapkan siswa menjadi leih baik sesuai dengan harapan bapak dan ibu guru.

2.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
a.    Apa sajakah kalimat optatif yang digunakan oleh pembina upacara di SMP Negeri 2 Kartasura?
b.    Bagaimanakah penerapan kalimat optatif oleh guru di SMP Negeri 2 Kartasura?
3.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
a.    Mengetahui kalimat optatatif yang digunakan oleh pembina upacara di SMP Negeri 2 Kartasura.
b.    Memaparkan penerapan kalimat optatif oleh guru di SMP Negeri 2 Kartasura.
4.    Manfaat
a.    Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bemanfaat untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan yang tekait dengan pembelajaran terutama pada tema unsur-unsur kalimat pada penulisan surat dinas.
b.   Manfaat Praktis
1.    Bagi guru
a.    Sebagai upaya untuk menawarkan inovasi baru cara menganalisis kalimat optatif
b.    Upaya untuk memotivasi siswa dalam kegiatan berhubungan dengan pendidikan karakter
c.    Upaya meningkatkan kualitas dan prestasi khususnya mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
2.    Bagi siswa
a.    Menjadikan  siswa dalam belatih berbuat baik.
b.    Meningkatkan kreativitas siswa.
c.    Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia lebih bemakna.
d.   Meningkatkan kemampuan siswa dalam menangkap makna yang disampaikan oleh guru
3.    Bagi peneliti
a.    Mengembangkan wawasan dan pengalaman peneliti.
b.    Mengaplikasikan teori yang diperoleh.
C.  Landasan Teori
a.    Kerangka teori
1.    Pengertian Sintaksis
Verhar (1977) mengatakan Kata sintaksis  berasal dari bahasa Yunani sun yang berarti ‘dengan’ dan tattein yang berarti ‘menempatkan’. Secara etimologis kata sintaksis berarti ‘menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat dan kelompok-kelompok kata menjadi kalimat’ dalam (Markhamah, 2013:5). Ramlan (1987) Sintaksis merupakan cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase, berbeda dngan morfologi yang membicarakan seluk beluk kata dan morfem dalam (Markhamah, 2013:5).  
(Markhamah,  2012 :12) mengatakan tata bahasa transformasional atau aliran transformasional adalah salah satu dari beberapa aliran atau paradigma dalam ilmu bahasa(linguistik). (Markhamah, 2012:26) mengatakan kalimat transformasi adalah kalimat yang sudah mengalami perubahan dari kalimat dasar/kalimat inti. Transformasi adalah proses perubahan dari kalimat dasar/inti menjadi kalimat transformasi, perubahan itu dapat terjadi karena, penambahan, pembalikan, pengurangan, penyematan, dan penggabungan. Samsuri (1985) mengatakan bahwa macam-macam kalimat transformasi dapat dijelaskan berikut ini. kalimat transformasi dapat dibagi menjadi beberapa macam. Secara garis besar kalimat transformasi dibagi menjadi empat kelompok besar: transormasi tunggal, transormasi sematan, transormasi rapatan dan transformasi fokus dalam (Markhamah, 2013:26).
1.Kalimat transformasi tunggal
            Kalimat transformasi tunggal adalah kalimat yang mengalami perubahan dengan cara menambah, mengurangi, mengganti dan lain-lain yang membentuk kalimat baru, namun kalimat baru itu terdiri atas satu pola kalimat.
2. Kalimat transformasi Sematan
            Kalimat sematan adalah suatu kalimat yang dihasilkan dari proses menanamkan atau menyematkan sebuah kalimat (dasar) ke dalam kalimat (dasar) yang lain. Transformasi dapat dilakukan dengan beberapa cara sehingga membentuk beberapa jenis transformasi sematan. Transformasi itu dapat dilakukan pada klausa relatif, pelengkap frase nomina dan lain-lain.
3. Kalimat transformasi rapatan
                         Kalimat rapatan adalah kalimat yang merapatkan kalimat(dasar) yang satu ke kalimat (dasar yang lain. Perapat sebaiknya digunakan ditengah-tengah kalimat yang panjang, yaitu kalimat rapatan dan secara langsung menghubungkan preposisi(kalimat dasar) yang satu dengan preposisi yang lain. Kalimat yang merupakan hasil tuturan dengan merapatkan kalimat yang satu kekalimat yang lainakan disebutkan menurutpengertian perapat yang dipakainya. Misalnya ialah kata-kata dan dan serta mempunyai makna “penambahan”. Oleh karena itu, kata-kata itu disebut perapat penambahan atau perapat aditif, sedangka kalimat turutan rapatan dengan perapatitu disebut kalimat rapatan penambahan atau kalimat rapatan aditif. (1) kalimat rapatan aditif 1(penambahan):dan dan serta, (2) kalimat rapatan aditif 2, (3) kalimat rapatan akibatan, (4) kalimat rapatan alahan, (5) kalimat rapatan alternatif, (6) kalimat rapatan andaian, (7) kalimat rapatan sandingan, (8) kalimat rapatan dubitatif, (9) kalimat rapatan eksklusif, (10) kalimat rapatan hasilan, (11) kalimat rapatan jelasan, (12) kalimat rapatan konhensif, (13) kalimat rapatan kontras, (14) kalimat rapatan kontras-konsesif, (15) kalimat rapatan korelatif, (16) kalimat rapatan lanjutan, (17) kalimat rapatan lebihan, (18) kalimat rapatan misalan, (19) kalimat rapatan mulaian, (20) kalimat rapatan optatif, (21) kalimat rapatan pilihan-perbandingan, (22) kalimat rapatan sebaban, (23) kalimat rapatan serempakan, (24) kalimat rapatan simpulan, (25) kalimat rapatan sudahan, (26) kalimat rapatan syaratan, (27) kalimat rapatan serasian, (28) kalimat rapatan tegasan, (29) kalimat rapatan tujuan, (30) kalimat rapatan usahan.  
4.   kalimat transformasi fokus
                        Fokus adalah pusat perhatian. Dalam bahasa indonesia secara keseluruhan penanda fokus itu ada 4 macam. Keempat macam itu adalah intonasi, pemindahan, partikel –lah/-pun, dan penggunaan posesif –nya. 
2.    Hakikat Berbicara
a. Definisi  Berbicara
Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang lebih sering memilih berbicara untuk berkomunikasi, karena komunikasi lebih efektif jika dilakukan dengan berbicara. Berbicara memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa ahli bahasa telah mendefinisikan pengertian berbicara, diantaranya sebagai berikut. Tarigan (1986: 3) mengemukakan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang dalam mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi  atau kata-kata yang bertujuan untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan orang tersebut. Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996: 144) berbicara  adalah suatu berkata, bercakap, berbahasa atau melahirkan pendapat, dengan berbicara manusia dapat mengungkapkan ide, gagasan, perasaan  kepada orang lain sehingga dapat melahirkan suatu intraksi.
Menurut Pageyasa (2004: 43) bahwa “keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau sekelompok orang secara lisan baik berhadapan ataupun dengan jarak jauh”. Utari dan Nababan (1993: 45) menyatakan bahwa “kemampuan berbicara adalah pengetahuan bentuk-bentuk bahasa dan makna-makna bahasa tersebut, dan kemampuan untuk menggunakannya pada saat kapan dan kepada siapa”. Sementara itu, Ibrahim (2001: 36) memberikan pengertian bahwa “kemampuan berbicara adalah kemampuan bertutur dan menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi, situasi, serta norma-norma berbahasa dalam masyarakat yang sebenarnya”.
Kompetensi komunikatif sebagai inti dari pengajaran berbicara juga berhubungan dengan kemampuan sosial dan menginterpretasikan bentuk-bentuk linguistik. Para siswa tentu sudah memiliki pengetahuan sebagai modal dasar dalam bertutur karena siswa berada dalam suatu lingkungan sosial yang menuntutnya untuk paham kode linguistik. Pengertian lebih lanjut dikemukakan Moris (Novia, 2002: 67) yang menyatakan bahwa “kemampuan berbicara merupakan kemampuan menggunakan alat komunikasi yang alami antara anggota masyarakat untuk mengungkapkan pikiran dan sebagai sebuah bentuk tingkah laku sosial”.
Menurut Samsuri dan Sadtono (1990: 34) bahwa keterampilan berbicara dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, diarahkan agar siswa memiliki kemampuan untuk: 
1.    Berpragmatik secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku secara lisan;
2.    Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara;
3.    Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;
4.    Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.
Berdasarkan beberapa pengertian para ahli yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan pengertian yang pertama kemampuan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau sekelompok orang secara lisan, baik berhadapan ataupun dengan jarak jauh dengan menggunakan kalimat yang sesuai dengan fungsi, situasi, serta norma-norma berbahasa dalam masyarakat yang sebenarnya. Simpulan yang kedua berbicara adalah suatu kemampuan  seseorang untuk bercakap-cakap dengan mengujarkan bunyi-bunyi bahasa untuk menyampaikan pesan berupa ide, gagasan, maksud atau perasaan untuk melahirkan intraksi kepada orang lain.
b. Metode Pembelajaran Berbicara
Pembelajaran berbicara mempunyai sejumlah komponen  yang
pembahasanya diarahkan pada segi metode pengajaran. Guru harus dapat
mengajarkan keterampilan berbicara dengan menarik dan bervariasi. Menurut Tarigan (1987: 106) ada 4  metode pengajaran berbicara  antara lain:
1.  Pecakapan 
Percakapan adalah pertukaran pikiran atau pendapat  mengenai suatu topik tertentu antara dua atau lebih pembaca. Greene dan Petty dalam  Tarigan (1987: 106). Percakapan selalu terjadi dua proses yakni proses menyimak dan berbicara secara simultan. Percakapan biasanya dalam suasana akrab dan peserta merasa dekat satu sama lain dan spontanlitas. Percakapan merupakan dasar keterampilan berbicara baik bagi anak-anak maupun orang dewasa.
2. Bertelepon 
            Menurut Tarigan (1987: 124) telepon sebagai alat komunikasi yang
sudah meluas sekali pemakaianya. Keterampilan menggunakan telepon bisnis, menyampaikan berita atau pesan. Penggunaan telepon menuntut syarat-syarat tertentu antara lain: berbicara dengan bahasa yang   jelas, singkat dan lugas. Metode bertelepon dapat digunakan sebagai metode pengajaran berbicara. Melalui metode bertelepon diharapkan siswa didik berbicara jelas, singkat dan lugas. Siswa harus dapat menggunakan waktu seefisien mungkin.
3.   Wawancara 
            Menurut Tarigan (1987: 126) wawancara atau interview sering
digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya wartawan mewawancarai para menteri, pejabat atau tokoh-tokoh masyarakat mengenai isyu penting. Wawancara dapat digunakan sebagai metode pengajaran berbicara, pada hakekatnya wawancara adalah bentuk kelanjutan dari  percakapan atau tanya jawab. Percakapan dan tanya jawab sudah biasa digunakan sebagai metode pengajaran berbicara. 
4. Diskusi 
            Diskusi sering digunakan sebagai kegiatan dalam kelas. Metode diskusi sangat berguna bagi siswa dalam melatih dan mengembangkan keterampilan berbicara dan siswa juga turut memikirkan masalah yang didiskusikan. Menurut Kim Hoa Nio dalam Tarigan (1987: 128) diskusi ialah proses pelibatan dua atau lebih individu yang berintraksi  secara verbal dan tatap muka, mengenai tujuan yang sudah tentu melalui cara tukar menukar informasi untuk memecahkan masalah.
c.  Faktor penunjang keefektivan berbicara
Berbicara adalah suatu kegiatan komunikasi antara 2 orang atau lebih   menggunakan bahasa lisan. Menurut Maidar dan Mukti  (1993: 18) dalam berbicara ada beberapa faktor yang menunjang keefektifan berbicara. Faktor-faktor tersebut antara lain :
1. Faktor kebahasaan
a)  Ketepatan ucapan, pengucapan buyi-bunyian harus tepat, begitu juga
dengan penempatan tekanan, durasi, dan nada yang sesuai.
b)  Pemilihan kata atau diksi, harus jelas, tepat dan bervariasi sehingga
dapat memancing kepahaman dari pendengar.
c)  Ketepatan sasaran pembicara, pemakaian kalimat atau keefektivan
kalimat memudahkan pendengar untuk menangkap isi pembicaraan.
2. Faktor non kebahasaan
a) Sikap yang tidak kaku.
b) Kesediaan menghargai pendapat.
c) Pandangan ke pendengar.
d) Gerak-gerik atau mimik tepat.
e) Kenyaringan suara.
f)  Kelancaran berbicara.
g) Penguasaan topik. 
d. Penilaian Keterampilan Berbicara
            Setiap kegiatan belajar perlu diadakan penilaian, setelah proses belajar mengajar itu selesai. Penilaian ini dapat diperoleh melalui tes. Tes merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengukur atau mengetahui sejauh mana siswa mampu mengikuti proses belajar mengajar yang telah berlangsung. Cara yang dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu berbicara adalah tes kemampuan keterampilan berbicara. Pada prinsipnya ujian keterampilan berbicara memberikan kesempatan kepada siswa untuk  berbicara yang difokuskan pada praktik berbicara. 
Penilaian di dalam keterampilan berbicara ditentukan dari 2 hal, yaitu faktor kebahasaan dan faktor non kebahasaan (Nurgiyantoro, 1995: 152). Penilaian dari faktor kebahasaan meliputi: (1) Ucapan, (2) tata bahasa, (3) kosa kata, sedangkan penilaian dari faktor non kebahasaan meliputi: (1) ketenangan, (2) volume suara, (3) Kelancaran, (4) pemahaman.
e.  Prinsip-prisip Pembelajaran Berbicara
Pembelajaran berbicara perlu memahami beberapa prinsip-prinsip yang mendasari kegiatan berbicara. Bahasa Jawa itu tidak sulit, tetapi juga tidak semudah membalik telapak tangan, yang penting adalah kemauan dan Ketekunan.
f.  Melatih Kemampuan Berbicara
Tidak hanya penampilan yang baik, seseorang juga harus mempunyai kemampuan berbicara yang baik. Oetomo, I (2008: 1-2) menguraikan ”cara melatih kemampuan berbicara berdasarkan tingkat atau teknik berbicara yaitu: 1) teknik berbicara yang baik, 2) teknik berbicara di depan umum, 3) teknik berbicara profesio-nal, dan 4) teknik membuka dan menutup pembicaraan”.
1.      Teknik Berbicara yang Baik
Bicaralah ramah pada setiap orang. Perkataan/artikulasi pun harus jelas agar tidak terjadi miscommunication. Perhatikan pula pemilihan kata. Meski bertujuan baik, jika salah berkata-kata maka tujuan itu tidak akan tercapai. Lakukan kontak mata pada lawan bicara. Saat bicara dengan atasan, usahakan fokus. Bicara seperlunya, Jangan ngelantur sehingga intinya malah tidak jelas. Kalau atasan memancing kita membicarakan masalah personal seorang rekan sekerja, sebagai bawahan yang profesional sebaiknya kita berbicara diplomatis.
2.      Teknik Berbicara Di Depan Umum
Berbicara di depan umum bukanlah soal bakat. Kemampuan tersebut bisa dilatih. Seorang siswa yang pendiam bisa tampil memikat di depan umum, asalkan mau belajar. Miliki kepercayaan diri dan kuasai bahan pembicaraan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1.    Tunjukkan antusias terhadap situasi dan pendengar.
2.    Lakukan kontak mata 5-15 detik, dan tatapan kita pun harus bekeliling bukan pada satu orang saja. Jadi, semua orang merasa diajak berbicara.
3.    Perlihatkan senyuman agar lawan bicara fokus pada kita.
4.    Sisipkanlah humor, karena humor akan menghilangkan kejenuhan, namun hindari humor yang berbau porno.
5.    Fokus pada pembicaraan. Tidak perlu memperlihatkan semua wawasan yang kita punya, karena akan menunjukan kita sok pintar.
6.    Berikan pujian yang jujur pada orang lain, tanpa menyimpang dari maksud.
3.      Teknik Berbicara Profesional
Seorang profesional perlu mengenal teknik presentasi yang efektif, seperti yang disebutkan diatas. Ada tiga faktor penting lainnya:
1.    Faktor verbal 7 %, menyangkut pesan yang kita sampaikan termasuk kata-kata yang kita ucapkan.
2.    Faktor vokal, 38 %, seperti intonasi, penekanan, dan resonansi suara.
3.    Faktor visual, 55 % yakni penampilan kita.
Jadi, jangan menyepelekan penampilan dan suara, sehingga orang yang mendengarkan tidak bosan. Kita harus pintar mengaturnya sehingga menciptakan suasana yang “hidup” dan dinamis.
4.    Teknik Membuka dan Menutup Pembicaraan
Untuk mengawali suatu pembicaraan, adakanlah small talk, seperti mengucapkan selamat pagi, siang atau malam. Untuk memancing perha-tian pendengar, lemparkan joke ringan. Setelah itu baru ke topik utama. Akhiri pembicaraan dengan ilustrasi dan summary hasil pembicaraan di dalamnya. Jadi, jangan bicara dari A sampai Z, sebaiknya diringkas sehingga orang mengerti dan tidak melupakan pesan atau intisari pembicaraan.
Berbicara atau berkomunikasi secara profesional menuntut kesiapan tiga hal. Pertama wawasan atau materi yang kita sampaikan, kedua cara penyampaian yang meliputi gerak, intonasi suara, dan penekanannya, ketiga penampilan kita. Semua hal tersebut dapat dipelajari asalkan siswa memiliki kemauan. Milikilah motivasi untuk maju dan berkembang mencapai keberhasilan yang diinginkan.

b.   Kajian Pustaka
Salah satu penelitian yang relevan adalah penelitian yang dilakukan Habibah (2002) meneliti “Strategi Guru Meningkatkan  Berbicara dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia siswa kelas 3 MAN Yogyakarta”. Penelitian Nur Habibah dengan judul Strategi Guru Meningkatkan  Berbicara  Dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Siswa  Kelas 3 MAN Yogyakarta dengan menggunakan Strategi Bertanya dan Menjawab Pertanyaan. Beberapa faktor penghambat keterampilan berbicara yang dihadapi guru dalam proses belajar mengajar di kelas 2 SDN Pakem Sleman dan Kelas 3 MAN I Yogyakarta antara lain berasal dari guru, siswa, materi pelajaran dan bahan ajar. Hambatan dari guru meliputi: mood (suasana hati yang tidakmendukung), guru sakit atau ada tugas di luar sedangkan hambatan dari materi pembelajaran berkaitan dengan tidak keseimbangan jumlah materi dan alokasi waktu yang tersedia dan hambatan dari siswa meliputi perbedaan faktor individu siswa antara lain memotivasi siswa, keberanian siswa dan prestasi siswa.
Handayani (2004) meneliti “Pengajaran Keterampilan Berbicara Siswa Kelas 2 SDN 3 Pakem Sleman”. Penelitian ini menggunakan Pendekatan Komunikatif. Sementara pada penelitian ini menggunakan Metode Pembelajaran Kontekstual dengan Teknik Bermain Peran dan Pemodelan dalam meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bayat.   
  Penelitian yang diungkapkan oleh Endang Setya Handayani (2004: 28) dan Nur Habibah (2002: 90) ada relenvasi dengan penelitian ini, walaupun penelitian yang dilaukan oleh  Endang Setya Handayani di kelas 2 SDN dan Nur Habibah kelas 3 MAN, sedangkan penelitian ini dilakukan di SMP. Hal ini dapat dilihat pada aspek yang diungkapkan yaitu masalah peningkatan keterampilan berbicara.
Murni (2009) meneliti “Wacana Bahasa Jawa dalam Sepuluh Lirik Lagu Campursari Karya Didi Kempot (Suatu Tinjauan Kohesi dan Koherensi). Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah kohesi dalam wacana lirik lagu campursari karya Didi Kempot? (2) Bagaimanakah koherensi dalam wacana lirik lagu campursari karya Didi Kempot? (3) Bagaimanakah ciri khas lirik lagu campursari karya Didi Kempot? Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan kohesi dalam wacana sepuluh lirik lagu campursari karya Didi Kempot, (2) mendeskripsikan koherensi dalam wacana sepuluh lirik lagu campursari karya Didi Kempot, (3) mendeskripsikan ciri khas sepuluh lirik lagu campursari karya Didi Kempot. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif.
KURNIATI (2013) meneliti “Analisis Wacana dalam Adat Perkawinan Sorong Serah Aji Krama, di Kalangan Masyarakat Sasak, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat”. Putri (2012) meneliti Analisis Kohesi dan Koherensi Tulisan Narasi Berbahasa Indonesia Pelajar BIPA.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud kohesi dan koherensi wacana tulisan narasi berbahasa Indonesia pelajar BIPA. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan pada program Critical Language Scholarship (CLS) di Center for Indonesian Studies (CIS)-BIPA UM. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wujud piranti kohesi gramatikal yang digunakan dalam tulisan narasi berbahasa Indonesia pelajar BIPA adalah referensi, subtitusi, dan konjungsi.
Kurniyawati (2014) meneliti “Tindak Tutur Direktif  dan Ekspresif Mahasiswa PBSI FKIP Universitas Jember dalam Jejaring Sosial Facebook”. Hasil penelitian ini, jenis TD yang ditemukan meliputi: a) TD requesitif (meminta, mendoa, mengajak atau mengundang); b) quesitif (bertanya); c) requiremen (menghendaki, memerintah); d) prohibitif (melarang); e) permisif (mempersilakan); dan f) advisoris (menasihatkan, memperingatkan, menyarankan); jenis TE yang ditemukan meliputi TE: a) mengungkapkan selamat, b) mengungkapkan terima kasih, c) mengungkapkan harapan/keinginan, d) mengungkapkan rasa khawatir, e) mengeluh, f) meminta maaf, g) mengungkapkan rasa kesal, h) mengungkapkan rasa bahagia, dan i) mengungkapkan sindiran.
D.   Metode Penelitian
            Suatu penelitian memerlukan metode strategis untuk memperoleh hasil yang maksimal dan valid. Menurut (Nasucha dan Rohmadi, 2015:29) Metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang sifat-sifat individu, keadaan, dan gejala dari kelompok tertentu yang dapat diamati. Sementara itu hasil penelitian ini berisi kutipan-kutipan dan kaidah dari hasil analisis dan pengamatan data yang sifatnya menuturkan, memaparkan, memerikan, mengklasifikasikan, menganalisis, dan menafsirkan secara kritis. Menurut (Nasucha dan Rohmadi, 2015:30) metode penelitian tersebut ditempuh dengan tiga tahapan strategis, yaitu pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data. Oleh karena itu, agar memperoleh hasil yang baik dari ketiga tahapan tersebut, data yang dijadikan objek sasaran penelitian dan sumber data harus diidentifikasi, disiapkan, dan dipilah-pilah sesuai dengan sudut kajiannya. 
a.    Tempat dan Waktu Penelitian
            Tempat dalam penelitian ini di SMP N 2 Kartasura. Peneliti mengambil data pada pidato upacara hari senin di SMP N 2 Kartasura yang beralamatkan di Jalan Ahmad Yani No. 320 Pabelan Kartasura. Sesuai denga penelitian kualitatif, waktu dan kegiatan penelitian bersifat fleksibel.
b.   Pendekatan dan Jenis Penelitian
            Penelitian ini menggunakan pendekatan sintaksis . Ramlan (1987) Sintaksis merupakan cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase, berbeda dngan morfologi yang membicarakan seluk beluk kata dan morfem dalam (Markhamah, 2013:5).  Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data berbentuk lisan maupun tulisan, bukan data berupa angka. Data yang sudah diperolh dideskripsikan dan dianailis kemudian disimpulkan. Penelitian ini menekankan pada penggunaan kalimat  optatif yang disampaikan oleh pembina upacara kepada peserta didik
c.    Data dan sumber data
            Lofland (1984) menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain dalam (Nasucha dan Rohmadi, 2015: 84). Sumber data yang diperoleh dari semua tuturan pemina upacara di SMP N 2 Kartasura, yaitu kalimat optatif  yang dituturkan oleh pembina kepada peserta didik. Sedangkan data dalam penelitian ini adalah tuturan yang mengandung kalimat optatif  dan sesuai karakteristik dalam penelitian yang dimaksudkan.
d.   Populasi dan Sampel
        Menurut (Nasucha dan Rohmadi, 2015:30) populasi dalam penelitian adalah  semua data yang terpilih menjadi data penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah semua kalimat optatif yang ada dalam pidato pada hari senin di SMP N 2 Kartasura. Kalimat optatif  yang diambil sebagai sampel adalah data yang sesuai data yang diinginkan penulis dan dianggap dapat mewakili populasi serta keseluruhan. Sampel dalam penelitian merupaan sebagian dari populasi yang dijadikan objek penelitian. Sampel dalam penelitian ini adalah semua kalimat dalam pidato pada hari senin di SMP N 2 Kartasura yang mengandung kalimat optatif.
        Teknik pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel bertujuan (purpose sampling). Maksudnya, sampel yang diambil merupakan sampel yang terpilih dan dianggap dapat mewakili kalimat optatif pada pidato upacara bendera hari senin di SMP N 2 Kartasura. Penggunaan sampel bertujuan untuk menemukan aspek kalimat optatif secara menyeluruh sesuai data yang ditemukan.
e.    Teknik Pengumpulan data
        Dalam penelitian ini data didapatkan dengan menggunakan teknik rekam dan catat. Selain itu, pengumpulan data dibantu juga dengan teknik pustaka, yaitu menggunakan sumber-sumber data berupa video pidato yang terkait dengan data yang dibutuhkan untuk memperoleh data yang lengkap dan akurat.
        Teknik rekam dan catat digunakan untuk mengumpulkan data berwujud kalimat optatif  pada pidato tersebut. Perekaman data menggunakan telepon genggam dan alat perekam video dengan durasi 3-10 menit. Setelah itu, data ditranskipsikan dalam entuk tulisan dalam kartu data. Hal ini dilakukan karena keterbatasan peneliti dalam mengingat dan mencatat data dari video untuk kebutuhan analisis data. Dengan demikian teknik rekam dan catat ini sangat membantu peneliti dalam menganalisis data dan membuat simpulan akhir.
        Teknik partisipasi dan pustaka digunakan peneliti ketika peneliti tidak terlibat langsung dalam kegiatan upacara tersebut. Selain itu video pidato pendukung yang dapat membantu melengkapi data penelitian.
f.     Uji Validitas Data
Uji validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi teori dan trianggulasi metode. Ada empat macam teknik trianggulasi. Peneliti memilih trianggulasi teori mengingat karakteristik data penelitian kalimat optatif. Data dalam penelitian ini kalimat-kalimat optatif. Dengan demikian, untuk menentukan suatu data kalimat optatif  diperlukan beberapa teori mengenai kalimat optatif  dari berbagai pakar bahasa. Dengan kata lain, perspektif teori digunakan untuk membahas permasalahan yang dikaji agar dapat ditarik simpulan yang bisa diterima kebenarannya. Trianggulasi teori dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan yang dikaji.
g.    Teknik analisis data
        Menurut (Nasucha dan Rohmadi, 2015:34) teknik analisis data secara umu dibedakan menjadi dua jenis, yaitu teknik kuantitatif an kualitatif. Penelitian kualitatif dan metode kuantitatif dibedakan melalui perbedaan paradigma ilmiah dan alamiah disatu pihak dan karakteristik metodologi di lain pihak. Analisis kualitatif secara khusus berasaldari data yang terjaring melalui rekam dan catat, partisipasi, pustaka, serta wawancara. Metode kualitatif yang bersifat deskriptif digunakan dalam penelitian ini agar dapat menguraikan dan menjelaskan karakteristik data sebenarnya secara kritis serta mampu melatarbelakangi data yang telah diperoleh.
        Analisis data dilakukan secara induktif, yaitu analisis langsung dari data ke teori yang ada. Hal ini dilakukan untuk menghindari manipulasi data yang menyebabkan data menjadi tidak memadai dan objektif. Selain itu, bentuk analisis ain yang digunakan adalah analisis mengalir (flow model of analisi) karena data yang dianalisis secara berkelanjutan. Ada dua model pook dalam analisis data pada penelitian kualitatif yang salah satunya adalah model analisis mengalir (flow model of analisis)
h.   Teknik Penyajian Hasil Analisis Data
        Hasil penelitian ini berupa penjelasan deskriptif mengenai kalimat optatif pada pidato upacara di SMP N 2 Kartasura. Hasil penelitian ini akan disajikan dengan dua metode, yaitu metode formal dan metode informal. Menurut (Nasucha dan Rohmadi, 2015:36) metode formal adalah penyajian data dengan perumusan kata-kata, sementara itu, metode informal adalah cara penyajian dengan perumusan tanda-tanda, lambang-lambang, atau tabel apabila diperlukan sebagai pendukung penyajian hasil analisis data.
        Metode pertama digunakanmenyajikan laporan peneitian mengenai kalimap optatif . Sementara itu, metode kedua digunakan untuk menyajikan data berupa tabel dan data pelengkap lainnya apabila diperlukan sebagai pendukung penyajian hasil analisis data dengan metode pertama.
E.      




Tidak ada komentar:

Posting Komentar