A. Judul
Penelitian
Analisis Kalimat Optatif (harapan) pada Pidato Upacara Bendera Hari
Senin di SMP Negeri 2 Kartasura
B. Pendahuluan
1. Latar
Belakang Masalah
Kata “penelitian” merupakan terjemahan dari bahasa Inggris “research”.
Mc. Millsn dan Schumancher mendefinisikannya sebagai berikut: “research is a
systemic process of collecting and analyzing information (data) for some
purposes.”, yang artinya penelitian adalah suatu proses sistematis tentang
pengumpulan dan penganalisisan informasi atau data untuk maksud-maksud
tertentu. Penelitian didefinisikan oleh banyak penulis sebagai suatu proses
yang sistematik. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk
memecahkan masalah yang dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah
(Emzir,2007:3). Creswell (2012: 3) menyebutkan “Research is a process of steps used to
collect and analyze information to increase our understanding of a topic or
issue., yang artinya penelitian adalah proses atau langkah-langkah yang
digunakan dalam mengumpulkan dan menganalisa informasi untuk meningkatkan
pemahaman suatu topik atau masalah. Dari definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian
merupakan upaya dan proses yang sistematis tentang pengumpulan data untuk
meganalisa dan memecahkan suatu masalah.
Penelitian menjadi
salah satu kompetensi wajib yang harus dikuasai oleh mahasiswa S-1, S-2 dan
S-3. Berbagai kegiatan ilmiah dapat dilakukan melalui prosedur ilmiah,
sistematis, empiris, dan logis. Semua itu menjadi dasar-dasar ilmiah dalam
penelitian dasar pendidikan. Pada waktu sekarang ini semakin dirasakan betapa
pentingnya fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Kenyataan yang dihadapai adalah
selain ahli-ahli bahasa, semua ahli yang bergerak dalam bidang pengetahuan yang
lain semakin memperdalam dirinya dalam bidang teori dan praktik. Semua orang
menyadari bahwa interaksi dan segala macam kegiatan dalam masyarakat akan
lumpuh tanpa bahasa.
Mengingat
pentingnya bahasa sebagai alat komunikasi dan memperhatikan wujud bahasa itu
sendiri, kita dapat membatasi pengertian bahasa sebagai: “bahasa adalah alat
komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh
alat ucap manusia” (Keraf, 2004:1. Bahasa mempunyai fungsi sebagai alat
komunikasidan kontrol sosial diharapkan dengan bahasa manusia mahir dalam
berbahasa baik dalam bahasa tulis maupun bahasa lisa, agar mereka yang
mendengar atau diajak bicara dengan mudah dapat memahami apa yang dimaksudkan.
Sebagai seorang
guru harus menjadi contoh peserta didik dalam menguasai keterampilan berbahasa
terutama keterampilan berbicara, dengan kemampaun berbicara yang baik seorang
guru menjadi sosok yang dirindukan oleh peserta didik. Untuk membimbing peserta
didik seorang guru mempunyai banyak strategi dalam mengarahkan serta
mengingatkan jika peserta didik melakukan kesalahan. Dengan upacara bendera
setiap hari senin merupakan momentum yang tepat untuk mengingatkan siswa untuk
berbuat lebih baik serta banyak harapan guru kepada peserta didik supaya
menjadi siswa yang berkompeten. Mengingat peserta didik dari tinjauan
anthopologi peserta didik dapat didefinisikan peserta didik sebagai makhluk
yang bermasyarakat dan dapat dimasyarakatkan, sehingga pendidikan harus
menyentuh upaya sosialisasi dan pembudayaan, artinya pendidikan harus dapat
membimbing peserta didik agar hidup bermasyarakat( dapat membentuk watak
bermasyarakat) dan sebagai sarana transmisi kebudayaan dalam Marsudi dkk
(2013:2).
Peserta didik merupakan
orang/individu yang mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat,
minat, dan kemampuannya agar tumbuh dan berkembang dengan baik serta mempuyai
kepuasan dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh gurunya (Prihatin,
2011:4).. Dalam penelitian ini penulis membahas mengenai Analisis Kalimat Optatif
(harapan) pada Pidato Upacara Bendera Hari Senin di SMP Negeri 2
Kartasura Dalam kegitan ini difokuskan pada kalimat optatif oleh guru pada
upacara hari senin. Dengan penelitian ini diharapkan siswa menjadi leih baik sesuai
dengan harapan bapak dan ibu guru.
2. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut:
a.
Apa
sajakah kalimat optatif yang digunakan oleh pembina upacara di SMP Negeri 2
Kartasura?
b.
Bagaimanakah
penerapan kalimat optatif oleh guru di SMP Negeri 2 Kartasura?
3. Tujuan
Penelitian
Penelitian
ini bertujuan untuk:
a.
Mengetahui
kalimat optatatif yang digunakan oleh pembina upacara di SMP Negeri 2
Kartasura.
b.
Memaparkan
penerapan kalimat optatif oleh guru di SMP Negeri 2 Kartasura.
4. Manfaat
a. Manfaat
Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bemanfaat untuk
memperkaya khazanah ilmu pengetahuan yang tekait dengan pembelajaran terutama
pada tema unsur-unsur kalimat pada penulisan surat dinas.
b. Manfaat
Praktis
1. Bagi
guru
a.
Sebagai
upaya untuk menawarkan inovasi baru cara menganalisis kalimat optatif
b.
Upaya
untuk memotivasi siswa dalam kegiatan berhubungan dengan pendidikan karakter
c.
Upaya
meningkatkan kualitas dan prestasi khususnya mata pelajaran bahasa dan sastra
Indonesia.
2. Bagi
siswa
a.
Menjadikan
siswa dalam belatih berbuat baik.
b.
Meningkatkan
kreativitas siswa.
c.
Pembelajaran
bahasa dan sastra Indonesia lebih bemakna.
d.
Meningkatkan
kemampuan siswa dalam menangkap makna yang disampaikan oleh guru
3. Bagi
peneliti
a.
Mengembangkan
wawasan dan pengalaman peneliti.
b.
Mengaplikasikan
teori yang diperoleh.
C. Landasan
Teori
a. Kerangka
teori
1.
Pengertian Sintaksis
Verhar (1977) mengatakan Kata sintaksis berasal dari
bahasa Yunani sun yang berarti
‘dengan’ dan tattein yang berarti
‘menempatkan’. Secara etimologis kata sintaksis berarti ‘menempatkan
bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat dan kelompok-kelompok
kata menjadi kalimat’ dalam (Markhamah, 2013:5). Ramlan (1987) Sintaksis
merupakan cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat,
klausa, dan frase, berbeda dngan morfologi yang membicarakan seluk beluk kata
dan morfem dalam (Markhamah, 2013:5).
(Markhamah, 2012 :12)
mengatakan tata bahasa transformasional atau aliran transformasional adalah
salah satu dari beberapa aliran atau paradigma dalam ilmu bahasa(linguistik). (Markhamah,
2012:26) mengatakan kalimat transformasi adalah kalimat yang sudah mengalami
perubahan dari kalimat dasar/kalimat inti. Transformasi adalah proses perubahan
dari kalimat dasar/inti menjadi kalimat transformasi, perubahan itu dapat
terjadi karena, penambahan, pembalikan, pengurangan, penyematan, dan
penggabungan. Samsuri (1985) mengatakan bahwa macam-macam kalimat transformasi
dapat dijelaskan berikut ini. kalimat transformasi dapat dibagi menjadi
beberapa macam. Secara garis besar kalimat transformasi dibagi menjadi empat
kelompok besar: transormasi tunggal, transormasi sematan, transormasi rapatan
dan transformasi fokus dalam (Markhamah, 2013:26).
1.Kalimat
transformasi tunggal
Kalimat
transformasi tunggal adalah kalimat yang mengalami perubahan dengan cara
menambah, mengurangi, mengganti dan lain-lain yang membentuk kalimat baru,
namun kalimat baru itu terdiri atas satu pola kalimat.
2. Kalimat
transformasi Sematan
Kalimat
sematan adalah suatu kalimat yang dihasilkan dari proses menanamkan atau
menyematkan sebuah kalimat (dasar) ke dalam kalimat (dasar) yang lain.
Transformasi dapat dilakukan dengan beberapa cara sehingga membentuk beberapa
jenis transformasi sematan. Transformasi itu dapat dilakukan pada klausa
relatif, pelengkap frase nomina dan lain-lain.
3.
Kalimat transformasi rapatan
Kalimat
rapatan adalah kalimat yang merapatkan kalimat(dasar) yang satu ke kalimat
(dasar yang lain. Perapat sebaiknya digunakan ditengah-tengah kalimat yang
panjang, yaitu kalimat rapatan dan secara langsung menghubungkan preposisi(kalimat
dasar) yang satu dengan preposisi yang lain. Kalimat yang merupakan hasil
tuturan dengan merapatkan kalimat yang satu kekalimat yang lainakan disebutkan
menurutpengertian perapat yang dipakainya. Misalnya ialah kata-kata dan dan serta mempunyai makna “penambahan”. Oleh karena itu, kata-kata itu
disebut perapat penambahan atau perapat aditif, sedangka kalimat turutan
rapatan dengan perapatitu disebut kalimat rapatan penambahan atau kalimat
rapatan aditif. (1) kalimat rapatan aditif 1(penambahan):dan dan serta, (2)
kalimat rapatan aditif 2, (3) kalimat rapatan akibatan, (4) kalimat rapatan
alahan, (5) kalimat rapatan alternatif, (6) kalimat rapatan andaian, (7)
kalimat rapatan sandingan, (8) kalimat rapatan dubitatif, (9) kalimat rapatan
eksklusif, (10) kalimat rapatan hasilan, (11) kalimat rapatan jelasan, (12) kalimat rapatan konhensif, (13)
kalimat rapatan kontras, (14) kalimat rapatan kontras-konsesif, (15) kalimat
rapatan korelatif, (16) kalimat rapatan lanjutan, (17) kalimat rapatan lebihan,
(18) kalimat rapatan misalan, (19) kalimat rapatan mulaian, (20) kalimat
rapatan optatif, (21) kalimat rapatan pilihan-perbandingan, (22) kalimat rapatan sebaban, (23) kalimat rapatan serempakan,
(24) kalimat rapatan simpulan, (25) kalimat rapatan sudahan, (26) kalimat
rapatan syaratan, (27) kalimat rapatan serasian, (28) kalimat rapatan tegasan,
(29) kalimat rapatan tujuan, (30) kalimat rapatan usahan.
4.
kalimat transformasi fokus
Fokus adalah pusat perhatian. Dalam bahasa indonesia secara keseluruhan penanda
fokus itu ada 4 macam. Keempat macam itu adalah intonasi, pemindahan, partikel
–lah/-pun, dan penggunaan posesif –nya.
2.
Hakikat Berbicara
a.
Definisi Berbicara
Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa
dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang lebih sering memilih berbicara untuk
berkomunikasi, karena komunikasi lebih efektif jika dilakukan dengan berbicara.
Berbicara memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa ahli
bahasa telah mendefinisikan pengertian berbicara, diantaranya sebagai berikut.
Tarigan (1986: 3) mengemukakan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang dalam
mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau
kata-kata yang bertujuan untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan
pikiran, gagasan dan perasaan orang tersebut. Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1996: 144) berbicara adalah suatu
berkata, bercakap, berbahasa atau melahirkan pendapat, dengan berbicara manusia
dapat mengungkapkan ide, gagasan, perasaan
kepada orang lain sehingga dapat melahirkan suatu intraksi.
Menurut Pageyasa (2004: 43) bahwa “keterampilan berbicara adalah kemampuan
mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau
sekelompok orang secara lisan baik berhadapan ataupun dengan jarak jauh”.
Utari dan Nababan (1993: 45)
menyatakan bahwa “kemampuan berbicara
adalah pengetahuan bentuk-bentuk bahasa dan makna-makna bahasa tersebut, dan
kemampuan untuk menggunakannya pada saat kapan dan kepada siapa”.
Sementara itu, Ibrahim (2001: 36)
memberikan pengertian bahwa “kemampuan
berbicara adalah kemampuan bertutur dan menggunakan bahasa sesuai dengan
fungsi, situasi, serta norma-norma berbahasa dalam masyarakat yang sebenarnya”.
Kompetensi
komunikatif sebagai inti dari pengajaran berbicara juga berhubungan dengan
kemampuan sosial dan menginterpretasikan bentuk-bentuk linguistik. Para siswa
tentu sudah memiliki pengetahuan sebagai modal dasar dalam bertutur karena
siswa berada dalam suatu lingkungan sosial yang menuntutnya untuk paham kode
linguistik. Pengertian lebih lanjut dikemukakan Moris (Novia, 2002: 67) yang
menyatakan bahwa “kemampuan berbicara
merupakan kemampuan menggunakan alat komunikasi yang alami antara anggota
masyarakat untuk mengungkapkan pikiran dan sebagai sebuah bentuk tingkah laku
sosial”.
Menurut Samsuri dan Sadtono (1990: 34) bahwa keterampilan berbicara dalam mata pelajaran
Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar, diarahkan agar siswa memiliki kemampuan
untuk:
1. Berpragmatik
secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku secara lisan;
2. Menghargai
dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa
negara;
3. Memahami
bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai
tujuan;
4. Menggunakan
bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan
emosional dan sosial.
Berdasarkan
beberapa pengertian para ahli yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan
pengertian yang pertama kemampuan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat
atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau sekelompok orang secara lisan,
baik berhadapan ataupun dengan jarak jauh dengan menggunakan kalimat yang
sesuai dengan fungsi, situasi, serta norma-norma berbahasa dalam masyarakat
yang sebenarnya. Simpulan yang
kedua berbicara adalah suatu kemampuan
seseorang untuk bercakap-cakap dengan mengujarkan bunyi-bunyi bahasa
untuk menyampaikan pesan berupa ide, gagasan, maksud atau perasaan untuk
melahirkan intraksi kepada orang lain.
b. Metode Pembelajaran
Berbicara
Pembelajaran berbicara mempunyai sejumlah komponen yang
pembahasanya diarahkan pada segi metode pengajaran. Guru
harus dapat
mengajarkan keterampilan berbicara dengan menarik dan
bervariasi. Menurut Tarigan (1987: 106) ada 4
metode pengajaran berbicara
antara lain:
1. Pecakapan
Percakapan adalah pertukaran pikiran atau pendapat mengenai suatu topik tertentu antara dua atau
lebih pembaca. Greene dan Petty dalam
Tarigan (1987: 106). Percakapan selalu terjadi dua proses yakni proses
menyimak dan berbicara secara simultan. Percakapan biasanya dalam suasana akrab
dan peserta merasa dekat satu sama lain dan spontanlitas. Percakapan merupakan
dasar keterampilan berbicara baik bagi anak-anak maupun orang dewasa.
2. Bertelepon
Menurut Tarigan (1987: 124) telepon
sebagai alat komunikasi yang
sudah meluas sekali pemakaianya. Keterampilan menggunakan
telepon bisnis, menyampaikan berita atau pesan. Penggunaan telepon menuntut
syarat-syarat tertentu antara lain: berbicara dengan bahasa yang jelas, singkat dan lugas. Metode bertelepon
dapat digunakan sebagai metode pengajaran berbicara. Melalui metode bertelepon
diharapkan siswa didik berbicara jelas, singkat dan lugas. Siswa harus dapat
menggunakan waktu seefisien mungkin.
3. Wawancara
Menurut Tarigan (1987: 126) wawancara
atau interview sering
digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya wartawan
mewawancarai para menteri, pejabat atau tokoh-tokoh masyarakat mengenai isyu
penting. Wawancara dapat digunakan sebagai metode pengajaran berbicara, pada
hakekatnya wawancara adalah bentuk kelanjutan dari percakapan atau tanya jawab. Percakapan dan
tanya jawab sudah biasa digunakan sebagai metode pengajaran berbicara.
4. Diskusi
Diskusi sering digunakan sebagai
kegiatan dalam kelas. Metode diskusi sangat berguna bagi siswa dalam melatih
dan mengembangkan keterampilan berbicara dan siswa juga turut memikirkan
masalah yang didiskusikan. Menurut Kim Hoa Nio dalam Tarigan (1987: 128)
diskusi ialah proses pelibatan dua atau lebih individu yang berintraksi secara verbal dan tatap muka, mengenai tujuan
yang sudah tentu melalui cara tukar menukar informasi untuk memecahkan masalah.
c. Faktor penunjang keefektivan berbicara
Berbicara adalah suatu kegiatan komunikasi antara 2 orang
atau lebih menggunakan bahasa lisan.
Menurut Maidar dan Mukti (1993: 18)
dalam berbicara ada beberapa faktor yang menunjang keefektifan berbicara.
Faktor-faktor tersebut antara lain :
1. Faktor kebahasaan
a) Ketepatan ucapan, pengucapan buyi-bunyian
harus tepat, begitu juga
dengan
penempatan tekanan, durasi, dan nada yang sesuai.
b) Pemilihan kata
atau diksi, harus jelas, tepat dan bervariasi sehingga
dapat memancing kepahaman dari pendengar.
c) Ketepatan
sasaran pembicara, pemakaian kalimat atau keefektivan
kalimat
memudahkan pendengar untuk menangkap isi pembicaraan.
2. Faktor non kebahasaan
a) Sikap yang tidak kaku.
b) Kesediaan menghargai pendapat.
c) Pandangan ke pendengar.
d) Gerak-gerik atau mimik tepat.
e) Kenyaringan suara.
f) Kelancaran
berbicara.
g) Penguasaan topik.
d.
Penilaian Keterampilan Berbicara
Setiap kegiatan belajar perlu
diadakan penilaian, setelah proses belajar mengajar itu selesai. Penilaian ini
dapat diperoleh melalui tes. Tes merupakan alat yang dapat digunakan untuk
mengukur atau mengetahui sejauh mana siswa mampu mengikuti proses belajar
mengajar yang telah berlangsung. Cara yang dapat digunakan untuk mengetahui
sejauh mana siswa mampu berbicara adalah tes kemampuan keterampilan berbicara.
Pada prinsipnya ujian keterampilan berbicara memberikan kesempatan kepada siswa
untuk berbicara yang difokuskan pada
praktik berbicara.
Penilaian di dalam keterampilan berbicara ditentukan dari
2 hal, yaitu faktor kebahasaan dan faktor non kebahasaan (Nurgiyantoro, 1995:
152). Penilaian dari faktor kebahasaan meliputi: (1) Ucapan, (2) tata bahasa,
(3) kosa kata, sedangkan penilaian dari faktor non kebahasaan meliputi: (1)
ketenangan, (2) volume suara, (3) Kelancaran, (4) pemahaman.
e. Prinsip-prisip Pembelajaran Berbicara
Pembelajaran berbicara perlu memahami beberapa
prinsip-prinsip yang mendasari kegiatan berbicara. Bahasa Jawa itu tidak sulit,
tetapi juga tidak semudah membalik telapak tangan, yang penting adalah kemauan
dan Ketekunan.
f. Melatih Kemampuan Berbicara
Tidak hanya penampilan yang baik, seseorang juga harus mempunyai kemampuan
berbicara yang baik. Oetomo, I (2008:
1-2) menguraikan ”cara
melatih kemampuan berbicara berdasarkan tingkat atau teknik berbicara yaitu: 1)
teknik berbicara yang baik, 2) teknik berbicara di depan umum, 3) teknik
berbicara profesio-nal, dan 4) teknik membuka dan menutup pembicaraan”.
1.
Teknik
Berbicara yang Baik
Bicaralah
ramah pada setiap orang. Perkataan/artikulasi pun harus jelas agar tidak
terjadi miscommunication. Perhatikan pula pemilihan kata. Meski bertujuan baik,
jika salah berkata-kata maka tujuan itu tidak akan tercapai. Lakukan kontak
mata pada lawan bicara. Saat bicara dengan atasan, usahakan fokus. Bicara
seperlunya, Jangan ngelantur sehingga intinya malah tidak jelas. Kalau atasan
memancing kita membicarakan masalah personal seorang rekan sekerja, sebagai
bawahan yang profesional sebaiknya kita berbicara diplomatis.
2.
Teknik
Berbicara Di Depan Umum
Berbicara
di depan umum bukanlah soal bakat. Kemampuan tersebut bisa dilatih. Seorang
siswa yang pendiam bisa tampil memikat di depan umum, asalkan mau belajar.
Miliki kepercayaan diri dan kuasai bahan pembicaraan. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan:
1. Tunjukkan antusias terhadap situasi
dan pendengar.
2. Lakukan kontak mata 5-15 detik, dan
tatapan kita pun harus bekeliling bukan pada satu orang saja. Jadi, semua orang
merasa diajak berbicara.
3. Perlihatkan senyuman agar lawan
bicara fokus pada kita.
4. Sisipkanlah humor, karena humor akan
menghilangkan kejenuhan, namun hindari humor yang berbau porno.
5. Fokus pada pembicaraan. Tidak perlu
memperlihatkan semua wawasan yang kita punya, karena akan menunjukan kita sok
pintar.
6. Berikan pujian yang jujur pada orang
lain, tanpa menyimpang dari maksud.
3.
Teknik
Berbicara Profesional
Seorang
profesional perlu mengenal teknik presentasi yang efektif, seperti yang disebutkan
diatas. Ada tiga faktor penting lainnya:
1. Faktor verbal 7 %, menyangkut pesan
yang kita sampaikan termasuk kata-kata yang kita ucapkan.
2. Faktor vokal, 38 %, seperti
intonasi, penekanan, dan resonansi suara.
3. Faktor visual, 55 % yakni penampilan
kita.
Jadi,
jangan menyepelekan penampilan dan suara, sehingga orang yang mendengarkan
tidak bosan. Kita harus pintar mengaturnya sehingga menciptakan suasana yang
“hidup” dan dinamis.
4. Teknik Membuka dan Menutup
Pembicaraan
Untuk
mengawali suatu pembicaraan, adakanlah small talk, seperti mengucapkan selamat
pagi, siang atau malam. Untuk memancing perha-tian pendengar, lemparkan joke
ringan. Setelah itu baru ke topik utama. Akhiri pembicaraan dengan ilustrasi
dan summary hasil pembicaraan di dalamnya. Jadi, jangan bicara dari A sampai Z,
sebaiknya diringkas sehingga orang mengerti dan tidak melupakan pesan atau
intisari pembicaraan.
Berbicara
atau berkomunikasi secara profesional menuntut kesiapan tiga hal. Pertama
wawasan atau materi yang kita sampaikan, kedua cara penyampaian yang meliputi
gerak, intonasi suara, dan penekanannya, ketiga penampilan kita. Semua hal
tersebut dapat dipelajari asalkan siswa memiliki kemauan. Milikilah motivasi
untuk maju dan berkembang mencapai keberhasilan yang diinginkan.
b.
Kajian Pustaka
Salah satu penelitian yang relevan adalah penelitian yang
dilakukan Habibah (2002) meneliti “Strategi Guru Meningkatkan Berbicara dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia siswa kelas 3 MAN Yogyakarta”. Penelitian Nur Habibah dengan judul
Strategi Guru Meningkatkan
Berbicara Dalam Pengajaran Bahasa
dan Sastra Indonesia Siswa Kelas 3 MAN
Yogyakarta dengan menggunakan Strategi Bertanya dan Menjawab Pertanyaan. Beberapa
faktor penghambat keterampilan berbicara yang dihadapi guru dalam proses
belajar mengajar di kelas 2 SDN Pakem Sleman dan Kelas 3 MAN I Yogyakarta
antara lain berasal dari guru, siswa, materi pelajaran dan bahan ajar. Hambatan
dari guru meliputi: mood (suasana hati yang tidakmendukung), guru sakit atau
ada tugas di luar sedangkan hambatan dari materi pembelajaran berkaitan dengan
tidak keseimbangan jumlah materi dan alokasi waktu yang tersedia dan hambatan
dari siswa meliputi perbedaan faktor individu siswa antara lain memotivasi
siswa, keberanian siswa dan prestasi siswa.
Handayani (2004) meneliti “Pengajaran Keterampilan
Berbicara Siswa Kelas 2 SDN 3 Pakem Sleman”. Penelitian ini menggunakan
Pendekatan Komunikatif. Sementara pada penelitian ini menggunakan Metode
Pembelajaran Kontekstual dengan Teknik Bermain Peran dan Pemodelan dalam meningkatkan
kemampuan berbicara pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bayat.
Penelitian yang
diungkapkan oleh Endang Setya Handayani (2004: 28) dan Nur Habibah (2002: 90)
ada relenvasi dengan penelitian ini, walaupun penelitian yang dilaukan
oleh Endang Setya Handayani di kelas 2
SDN dan Nur Habibah kelas 3 MAN, sedangkan penelitian ini dilakukan di SMP. Hal
ini dapat dilihat pada aspek yang diungkapkan yaitu masalah peningkatan
keterampilan berbicara.
Murni (2009) meneliti “Wacana Bahasa Jawa
dalam Sepuluh Lirik Lagu Campursari Karya Didi Kempot (Suatu Tinjauan Kohesi
dan Koherensi)”. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah
kohesi dalam wacana lirik lagu campursari karya Didi Kempot? (2) Bagaimanakah
koherensi dalam wacana lirik lagu campursari karya Didi Kempot? (3)
Bagaimanakah ciri khas lirik lagu campursari karya Didi Kempot? Penelitian ini
bertujuan (1) mendeskripsikan kohesi dalam wacana sepuluh lirik lagu campursari
karya Didi Kempot, (2) mendeskripsikan koherensi dalam wacana sepuluh lirik
lagu campursari karya Didi Kempot, (3) mendeskripsikan ciri khas sepuluh lirik
lagu campursari karya Didi Kempot. Jenis penelitian ini adalah penelitian
deskriptif kualitatif.
KURNIATI (2013) meneliti “Analisis Wacana dalam Adat Perkawinan Sorong Serah Aji Krama, di Kalangan Masyarakat Sasak, Lombok Timur, Nusa
Tenggara Barat”. Putri (2012) meneliti “Analisis Kohesi dan Koherensi Tulisan Narasi Berbahasa Indonesia
Pelajar BIPA”. Penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud kohesi dan koherensi wacana tulisan
narasi berbahasa Indonesia pelajar BIPA. Jenis penelitian ini adalah penelitian
deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan pada program
Critical Language Scholarship (CLS) di Center
for Indonesian Studies (CIS)-BIPA UM. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa wujud piranti kohesi gramatikal yang digunakan dalam tulisan
narasi berbahasa Indonesia pelajar BIPA adalah referensi, subtitusi, dan
konjungsi.
Kurniyawati (2014) meneliti “Tindak Tutur Direktif dan
Ekspresif Mahasiswa PBSI FKIP Universitas Jember dalam Jejaring Sosial Facebook”. Hasil penelitian ini, jenis TD yang
ditemukan meliputi: a) TD requesitif (meminta, mendoa, mengajak atau
mengundang); b) quesitif (bertanya); c) requiremen (menghendaki, memerintah);
d) prohibitif (melarang); e) permisif (mempersilakan); dan f) advisoris
(menasihatkan, memperingatkan, menyarankan); jenis TE yang ditemukan meliputi
TE: a) mengungkapkan selamat, b) mengungkapkan terima kasih, c) mengungkapkan
harapan/keinginan, d) mengungkapkan rasa khawatir, e) mengeluh, f) meminta
maaf, g) mengungkapkan rasa kesal, h) mengungkapkan rasa bahagia, dan i)
mengungkapkan sindiran.
D. Metode Penelitian
Suatu
penelitian memerlukan metode strategis untuk memperoleh hasil yang maksimal dan
valid. Menurut (Nasucha dan Rohmadi, 2015:29) Metode penelitian kualitatif
merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan tentang sifat-sifat individu, keadaan, dan gejala
dari kelompok tertentu yang dapat diamati. Sementara itu hasil penelitian ini
berisi kutipan-kutipan dan kaidah dari hasil analisis dan pengamatan data yang
sifatnya menuturkan, memaparkan, memerikan, mengklasifikasikan, menganalisis,
dan menafsirkan secara kritis. Menurut (Nasucha dan Rohmadi, 2015:30) metode
penelitian tersebut ditempuh dengan tiga tahapan strategis, yaitu pengumpulan
data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data. Oleh karena itu, agar
memperoleh hasil yang baik dari ketiga tahapan tersebut, data yang dijadikan
objek sasaran penelitian dan sumber data harus diidentifikasi, disiapkan, dan
dipilah-pilah sesuai dengan sudut kajiannya.
a.
Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat
dalam penelitian ini di SMP N 2 Kartasura. Peneliti mengambil data pada pidato
upacara hari senin di SMP N 2 Kartasura yang beralamatkan di Jalan Ahmad Yani
No. 320 Pabelan Kartasura. Sesuai denga penelitian kualitatif, waktu dan
kegiatan penelitian bersifat fleksibel.
b.
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian
ini menggunakan pendekatan sintaksis .
Ramlan (1987) Sintaksis merupakan cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk
beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase, berbeda dngan morfologi yang
membicarakan seluk beluk kata dan morfem dalam (Markhamah, 2013:5). Jenis
penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif adalah prosedur
penelitian yang menghasilkan data berbentuk lisan maupun tulisan, bukan data
berupa angka. Data yang sudah diperolh dideskripsikan dan dianailis kemudian
disimpulkan. Penelitian ini menekankan pada penggunaan kalimat optatif yang disampaikan oleh pembina
upacara kepada peserta didik
c.
Data dan sumber data
Lofland
(1984) menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah
kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan
lain-lain dalam (Nasucha dan Rohmadi, 2015: 84). Sumber data yang diperoleh
dari semua tuturan pemina upacara di SMP N 2 Kartasura, yaitu kalimat optatif yang dituturkan oleh pembina kepada peserta
didik. Sedangkan data dalam penelitian ini adalah tuturan yang mengandung
kalimat optatif dan sesuai karakteristik dalam penelitian yang
dimaksudkan.
d.
Populasi dan Sampel
Menurut
(Nasucha dan Rohmadi, 2015:30) populasi dalam penelitian adalah semua data yang terpilih menjadi data penelitian.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua kalimat optatif yang ada dalam pidato pada hari senin di SMP N 2 Kartasura.
Kalimat optatif yang diambil sebagai sampel adalah data yang
sesuai data yang diinginkan penulis dan dianggap dapat mewakili populasi serta
keseluruhan. Sampel dalam penelitian merupaan sebagian dari populasi yang
dijadikan objek penelitian. Sampel dalam penelitian ini adalah semua kalimat
dalam pidato pada hari senin di SMP N 2 Kartasura yang mengandung kalimat optatif.
Teknik pemilihan
sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel bertujuan (purpose sampling). Maksudnya, sampel
yang diambil merupakan sampel yang terpilih dan dianggap dapat mewakili kalimat
optatif pada pidato upacara bendera
hari senin di SMP N 2 Kartasura. Penggunaan sampel bertujuan untuk menemukan
aspek kalimat optatif secara
menyeluruh sesuai data yang ditemukan.
e.
Teknik Pengumpulan data
Dalam
penelitian ini data didapatkan dengan menggunakan teknik rekam dan catat.
Selain itu, pengumpulan data dibantu juga dengan teknik pustaka, yaitu
menggunakan sumber-sumber data berupa video pidato yang terkait dengan data
yang dibutuhkan untuk memperoleh data yang lengkap dan akurat.
Teknik rekam dan catat digunakan untuk
mengumpulkan data berwujud kalimat optatif
pada pidato tersebut. Perekaman data
menggunakan telepon genggam dan alat perekam video dengan durasi 3-10 menit.
Setelah itu, data ditranskipsikan dalam entuk tulisan dalam kartu data. Hal ini
dilakukan karena keterbatasan peneliti dalam mengingat dan mencatat data dari
video untuk kebutuhan analisis data. Dengan demikian teknik rekam dan catat ini
sangat membantu peneliti dalam menganalisis data dan membuat simpulan akhir.
Teknik partisipasi dan pustaka digunakan peneliti ketika peneliti tidak terlibat langsung
dalam kegiatan upacara tersebut. Selain itu video pidato pendukung yang dapat
membantu melengkapi data penelitian.
f.
Uji Validitas Data
Uji validitas data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah trianggulasi teori dan trianggulasi metode. Ada empat macam teknik
trianggulasi. Peneliti memilih trianggulasi teori mengingat karakteristik data
penelitian kalimat optatif. Data
dalam penelitian ini kalimat-kalimat optatif.
Dengan demikian, untuk menentukan suatu data kalimat optatif diperlukan beberapa
teori mengenai kalimat optatif dari berbagai pakar bahasa. Dengan kata lain,
perspektif teori digunakan untuk membahas permasalahan yang dikaji agar dapat
ditarik simpulan yang bisa diterima kebenarannya. Trianggulasi teori dilakukan
oleh peneliti dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam
membahas permasalahan yang dikaji.
g.
Teknik analisis data
Menurut
(Nasucha dan Rohmadi, 2015:34) teknik analisis data secara umu dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu teknik kuantitatif an kualitatif. Penelitian
kualitatif dan metode kuantitatif dibedakan melalui perbedaan paradigma ilmiah
dan alamiah disatu pihak dan karakteristik metodologi di lain pihak. Analisis
kualitatif secara khusus berasaldari data yang terjaring melalui rekam dan
catat, partisipasi, pustaka, serta wawancara. Metode kualitatif yang bersifat
deskriptif digunakan dalam penelitian ini agar dapat menguraikan dan
menjelaskan karakteristik data sebenarnya secara kritis serta mampu
melatarbelakangi data yang telah diperoleh.
Analisis
data dilakukan secara induktif, yaitu analisis langsung dari data ke teori yang
ada. Hal ini dilakukan untuk menghindari manipulasi data yang menyebabkan data
menjadi tidak memadai dan objektif. Selain itu, bentuk analisis ain yang
digunakan adalah analisis mengalir (flow
model of analisi) karena data yang dianalisis secara berkelanjutan. Ada dua
model pook dalam analisis data pada penelitian kualitatif yang salah satunya
adalah model analisis mengalir (flow
model of analisis)
h.
Teknik Penyajian Hasil Analisis Data
Hasil
penelitian ini berupa penjelasan deskriptif mengenai kalimat optatif pada pidato upacara di SMP N 2
Kartasura. Hasil penelitian ini akan disajikan dengan dua metode, yaitu metode
formal dan metode informal. Menurut (Nasucha dan Rohmadi, 2015:36) metode
formal adalah penyajian data dengan perumusan kata-kata, sementara itu, metode
informal adalah cara penyajian dengan perumusan tanda-tanda, lambang-lambang,
atau tabel apabila diperlukan sebagai pendukung penyajian hasil analisis data.
Metode pertama
digunakanmenyajikan laporan peneitian mengenai kalimap optatif . Sementara itu, metode kedua digunakan untuk menyajikan
data berupa tabel dan data pelengkap lainnya apabila diperlukan sebagai
pendukung penyajian hasil analisis data dengan metode pertama.
E.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar