kalimat efektif abdul razak
1. Kalimat
dalam Karangan yang Efektif
Faktor
kalimatlah yang terutama menjadikan sebuah karya tulis efektif bagi pembaca.
Sebab kalimat itulah yang membawa pembaca berkenalan dengan isi suatu bacaan.
Perkenalan pertama terjadi karena ketika ia barun saja mulai membacanya.
Selanjutnya perkenalan pertama itu mungkin berhenti dan mungkin pula
berkelanjutan.Dalam sebuah karya tulis, kalimat yang baik justru biasa dengan
mudah mengantarkan pembaca padab maksud
yang dipaparkan penulinya. Pembaca mudah mengenal bahwa di situ
diuraikan sesuatu yang ada gunanya diketahui.Sebaliknya, ada karangan yang
isinya tidak terlalu bagus dan kualitas isi pun tidak pula begitu
mencengangkan,tetapi enak dibaca.Karangan itu memikat sebab dihidangkan dalam
kalimat yang bersahabat dengan pembaca.
2. Kalimat
Efektif
Konsep
kalimat efektif dikenal dalam hubungan fungsi kalimat selaku alat komunikasi.
Artinya, setiap kalimat terlibat dalam proses penyampaian dan penerimaan. Apa
yang disampaikan dan yang diterima itu mungkin berupa ide, gagasan, pesan,
pengertian atau informasi.Kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses
penyampaian dan penerimaan itu berlangsung dengan seempurna. Dilihat dari
fungsinya, kalimat adalah alat komunikasi. Kalimat yang polanya salah menurut tata
bahasa, jelas tidak efektif. Namun, kalimat yang menurut tata bahasa betul
polanya juga belum tentu efektif. Syarat kalimat efektif yaitu
struktura,polanya harus benar, kalimat itu harus punya tenaga yang menarik, dan
dalam karya tulis membentuk kerja sama lewat sistem yang bervariasi.
3.
Beban
kalimat dalam komunikasi
Dalam
peristiwa komunikasi, kalimat mempunyai beban yang betul-betul tidak ringan.
Beban tugasnya bukanlah hanya menyangkut proses penyampaian dan penerimaan
informasi belaka. Fungsi kalimat itu tidak hanya untuk memberitahukan atau
menanyakan sesuatu, tetapi mencakup semua ekspresi kejiwaan manusia yang sangat
majemuk.
4.
Kalimat
dalam pengajaran bahasa
Pengajaran
bahasa yang berlandaskan teori linguistik mengakui bahwa dalam hal pemilihan
materi, penekanan harus lebih diberikan kepada masalah kalimat dan
pemakaiannya. Tujuan primer harus diletakkan pada keterampilan menggunakan
kalimat secara efektif, baik untuk memberitahukan atau menanyakan sesuatu
maupun untuk membahaskan masalah dan membahaskan ekspresi kejiwaan. Sebab,
kalimat adalah unsur kesatuan yang paling kecil dari bahasa. Dalam penilaian orang terhadap hasil
pengajaran bahasa indonesia, mempunyai nilai belum memuaskan. Menurut ahlinya,
hasil yang belum memuaskan itu disebabkan oleh beberapa hal yaitu, (1) materi
yang diajarkan terlalu menekankan kepada pengenalan istilah dan hukum gramatikal,
(2) contoh-contoh maupun bahan-bahan latihan kalimat umumnya diberikan dalam
bentuk yang terpisah-pisah atao sepotong-potong, (3) sasaran yang diingikan
guru kebanyakan terbatas penghindaran kesalahan-kesalahan gramartikal.
I.
STRUKTUR KALIMAT
Kalimat efektif
selalu memiliki struktur atau bentuk yang jelas. Setiap unsur yang terdapat
didalamnya yang pada umumnya terdiri dari kata harus menempati posisi yang
jelas dalam hubungan satu sama lain.Kata-kata itu mesti diurutkan menurut
aturan-aturan yang sudah dibiasakan. Tidak boleh menyimpang apalagi
bertentangan. Setiap penyimpangan biasanya akan menimbulkan kelainan yang tidak
dapat diterima oleh masyarakat pemakai bahasa itu.
Misalnya,
kalimat saya menulis surat buat papa. Efek yang ditimbulkanya akan sangat lain
bila dikatakan, antara lain yaitu
·
Buat papa menulis surat
saya
·
Surat saya menulis buat
papa
·
Menulis saya surat buat
papa
1.
Struktur
kalimat dalam karya tulis
Studi
tentang struktur kalimat termasuk bidang studi tata bahasa. Ilmu tata bahasa
yang khusus mempelajari struktur kalimat disebut ilmu tata kalimat atau
sintaksis. Walaupun yang dipelajari ilmu ini hanya mengenai kalimat, namun
segi-seginya amat luas dan kompleks. Untuk ketrampilan menghasilkan kalimat
efektif, tidak semua ilmu tata kalimat itu perlu dipelajari dulu. Yang perlu
diketahui hanya beberapa segi yang langsung berkaitan dengan hal-hal yang
memudahkan Anda membuat kaliamat efektif itu. Beberapa segi yang dimaksud
bertalian dengan pengetahuan dasar tentang struktur kalimat. Pengetahuan dasar
tentang struktur kalimat memang sagat diperlukan untuk terampil memproduksi
kalimat yang baik, terutama dalam rangka penciptaan karya tulis yang efektif
dan penulis yang baik harus mampu menilai kalimatnya sendiri, menentukan dimana
letak salahnya bila terasa janggal, dan bagaimana memperbaikinya agar menjadi
lebih baik.
2.
Tiga
Jenis Struktur Kalimat
Dalam
suatu karya tulis, struktur kalimat hanya ada tiga macam yaitu (1) kalimat
sedrhana, (2) kalimat luas dan (3) kalimat hubung.
Sebagai
contoh dua buah kalimat sederhana :
(1) aku sebetulnya
seorang artis.
(2) Sukses yang
kuperoleh ditempat lain, tidak lain karena nasib baik.
Satu
buah kalimat gabung
Aku bekerja sebagai
penulis interviu dan artikel mengenai bintang film dan dan tokoh-tokoh
Hollywood ynag dimuat di luar negeri dalam mahalah perdagangan dan film
Inggris.
Kemudian
dua buah kalimat luas :
(1) Pekerjaan itu tidak
kusukai, tapi aku memperoleh penghasilan yang besar darinya.
(2) sungguh, sukses
yang kuperoleh lebih daripada cukup kesenangan dan keselamatan terjamin
Kutipan
diatas dapat dikatakan sangat efektif. Buktinya, buku dari mana karangan itu
dikutip, sampai sekarang telah diterjemahkan kedalam lebih dari dua puluh
bahasa didunia. Faktor apa saja yang membuat karangan itu demikian efektif?.
Pertama, kalimatnya memiliki struktur yang benar dan mempunyai kesatuan bentuk
yang bulat. Kedua, penulisnya pintar sekali membangun kerja sama yang kompak
dari kalimat ketiga jenis struktur tadi.
a.
Unsur
Unsur Kalimat
Dilihat
dari sudut struktur, kalimat terdiri dari unsur, yakni berupa kata. Unsur
itulah yang bersama-sama dalam menurut sistem tertentu membangun stuktur itu.
Jadi, kita dalam hal ini dilihat dari fungsinya dalam membangun sebuah
struktur, suatu kesatuan bentuk di dalam bahasa.
1.
Subyek
Subyek
adalah unsur yang diperkatakan dalam sebuah kalimat. Kata-kata yang dicetak
tebal pada contoh dibahwah ini berfungsi sebagai subyek dalam kalimat yang
bersangkutan.
Aku sebetulnya seorang
artis
Contoh Aku dalam kalimat tersebut merupakan
subyek.
2.
Predikat
Kata
yang dalam sebuah kalimat berfungsi memberitahukan apa, mengapa, atau bagaimana
subyek itu disebut predikat.
Aku
sebetulnya seorang artis
Kata
artis merupakan unsur predikat, sebab
kata artis menceritakan tentang “aku”
(subyek). Seperti halnnya subyek, predikat juga sering didampingi oleh kata
atau kelompok kata lain yang berfungsi sebagai keterangan predikat.
3.
Pelengkap
Seringkali
predikat sebuah kalimat harus dilengkapi lagi dengan unsur lain, sehingga
terjadilah suatu pernyataan yang lebih lengkap. Misal;
Adik
menulis surat
Bagian
yang di cetak tebal pada contoh diatasa adalah unsur kalimat berfungsi sebagai
pelengkap, terlihat pula bahwa unsur pelengkap tersebut selalu berada di
belakang predikat.
4.
Kata
Perangkai
Unsur
ini berfungsi merangkaikan dua unsur subyek, dua unsur predikat atau dua unsur
pelengkap didalam sebuah kalimat. Unsur kalimat yang berfungsi sebagai kata
perangkai ini sering diwakili oleh kata-kata dan, dengan, serta, beserta, bersama dan kadang-kadang oleh kata juga.
5.
Kata
Pelengkap
Ada
kalanya unsur ini terdiri atas satu kata dan ada pula yang terdiri atas satu
kelompok kata; berfungsi untuk menghubungkan (jika perlu) dua buah informasi
didalam satu kalimat. Seperti contoh dibawah ini
Pekerjaan
itu tidak kusukai, tapi aku
memperoleh penghasilan yang besar darinya.
6.
Kata
Modalitas
Unsur
ini sering juga disebut “kata warna”, berfungsi untuk mengubah keseluruhan arti
sebuah kalimat. Seperti contohnya ;
Aku
sebetulnya seorang artis
Dengan
masuknya kata sebetulnya dalam
kaliamat tersebut, maka pengertian kalimat-kalimat itu berubah secara
keseluruhan. Dengan masuknya sebuah kata modalitas kedalam sebuah kalimat, maka
kalimat itu mungkin berubah menjadi sebuah pernyataan tegas, yang ragu-ragu,
yang lembut, yang pasti dan lain sebagainya.
7.
Frase
Bentuknya
merupakan sebuah kelompok kata dan sering kali berfungsi sebagai keterangan
predikat untuk keperluan-keperluan tertentu. Misalnya untuk menyatakan
keterangan waktu, keterangan sebab, keterangan tempat dan lain sebagainya
8.
Klausa
Sama
dengan sebuah frase, klausa juga berbentuk sebuah kelompok kata. Bedanya kalusa
mempunyai unsur-unsur subyek dan predikat, frase tidak.
9.
Bentuk
absolut
Selain
yang dikemukakan diatas, ada lagi jenis unsur lain yang acap kali muncul
didalam sebuah kalimat. Unsur ini kita namakan bentu absolut, sebab secara
gramatikal tidak punyahubungan apa-apa dengan unsur-unsur yang lain didalam
sebuah kalimat.
Akhirnya,
perlu dicatat bahwa dua diantara sembilan unsur yang diuraikan diatas merupakan
unsur wajib, yaitu subyek dan predikat. Sebuah kalimat – sebagai satuan
terkecil dari bahasa – harus memiliki kedua unsur itu. Unsur ynag lain
kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak ada.
II.
KALIMAT
SEDERHANA
Kalimat
sederhana maupun kalimat luas adalah masalah struktur, walaupun pada umumnya
kalimat sederhana memang banyak yang lebih pendek dari pada kalimat luas. Ada
perbandingan esensial antara kalimat sederhana dengan kalimat luas. Pertama,
sebuah kalimat sederhana hanya memberikan satu informasi, sedang sebuah kalimat
luas berisi informasi lebih dari satu. Kedua, beberapa kalimat sedrhana dapat
didudun menjadi sebuah kalimat luas dan sebuah kalimat luas bisa pula dipisah menjadi
satu buah kalimat sederhana.
1.
Bentuk
Kalimat Sederhana
Kalimat
sederhana adalah dasar dari semua macam ragam kalimat yang lain dan secara
alamiah kita telah dilatih sejak kecil menggunakanya. Kalimat sederhana itu
memang sederhana, baik bentuk maupun isinya. Dari segi bentuk, unsur katanya
tidak banyak, sedang dari sudaut isinya ia hanya memberikan satu informasi atau
sebuah pikiran. Oleh sebab itu, memahaminya sangat mudah dan membuat bentuk ini
lebih disenangi oleh pendengar maupun pembaca. Dan keadaan ini universal,
berlaku disemua tempat dan waktu.
Sebaliknya,
kalimat luas berisi banyak informasi. Masih lumayan kalau dua atau tiga
informasi saja. Kalau empat, lima dan seterusnya, ia bisa menjadi terlalu luas,
bisa membuat pendengar atau pembaca repot menangkap.
2.
Pola
Kalimat Sederhana
Pola
kalimat merupakan peristiwa tetap, yang berubah adalah ukuran banyak sediknya
kata sebagai unsur yang membangun pola itu. Yang berubah adalah kata yang
digunakanya, sebagai pendukung pengertian yang hendak disampaikan. Dan berubah
adalah variasinya. Kadang-kadang suatu unsur ditaruh dibagian depan kalimat,
kadang-kadang ditengah dan kadang-kadang dibelakang.
Dalam
kalimat, peristiwa tetap itu merupakan pola dasar kalimat. Pola dasar sebuah
kalimat sederhana sesuai dengan namanya juga sangat sedrhana. Unsurnya terdiri
atas dua bagian. Bagian pertama merupakan sesuatu yang dibicarakan didalam
kalimat itu. Sedang bagian kedua merupakan unsur yang fungsinya memberitahukan
apa atau bagaimana unsur yang dibicarakan tadi.
Berikut pola dasar
kalimat sederhana dapat pula dilukiskan sebagai berikut :
|
Subyek
|
Predikat
|
|
Anaknya
Perkawinan
itu
Bersinnya
Kegemaranya
membaca
Rasa
gemetar yang dingin
Keadaanya
Udara
Berkata
itu
|
Seorang
lelaki
Terpaksa
dibatalkan
Terdengar
seperti kuda
Sangat
penting gunanya
Turun
naik di punggungnya
Baik
sekali
Sangat
dingin
Mudah
|
Jelas
bahwa bagaimanapun sederhanya sebuah kalimat polanya selalu terdiri dari dua
bagian yaitu unsur subyek maupun unsur predikat. Tanpa salah satu unsur
tersebut, kesatuan itu akan rusak, tidak merupakan suatu kesatuan yang utuh dan
bulat, dan tidak dapat disebut sebuah kalimat. Sebalinya jika kedua unsur
tersebut ada, pola itu akan tetap utuh meskipun sejumlah kata dilenyapkan.
Terkadang
dengan unsur-unsur subyek dan predikat saja terasa belum cukup untuk
menjelmakan suatu maksud. Misal ayah
membeli. Ini jelas belum memberikan informasi yang lengkap. Maka diperlukan
unsur lain agar maksud tersebut menjadi bermakna, unsur tersebut kita kenal
dengan istilah pelengkap. Umpamanya Ayah
membeli sepeda. Kini baru lengkap dan jelas maknanya, kemudian pola dasar sebuah
kalimat sederhana bisa pula berbentuk subyek + predikat + pelengkap.
Tidak
semua kalimat sederhana memiliki pelengkap. Kalimat yang predikatnya kata kerja
intransitif tidak memerlukan unsur pelengkap. Misal gedung terbakar. Yanng
memerlukan unsur pelengkap ialah kalimat yang predikatnya kata kerja transitif.
Misal kata membeli, memukul dll.
3.
Mengembangkan
Kalimat Sederhana
Proses
menambahkan kata atau kelompok kata pada pola dasar kita sebut menggembangkan
kalimat. Mengembangkan sebuah kalimat berarti menambahkan sejumlah unsur lain
kepada pola dasar kalimat itu. Unsur lain itu tergantung pada apa yang hendak
kita nyatakan. Seorang penulis dapat dengan bebas memilih kata yang
diinginkannya untuk mengembangkan kalimat menurut keperluan. Ia juga bebas
menggunakan kata-kata itu menurut jumlahnya. Jadi, mengembangkan sebuah kalimat
berarti menambahkan sejumlah unsur lain kepada pola dasar kalimat itu. Terdapat
dua macam unsur kalimat yang sifatnya satu sama lain berbeda. Unsur semula yang
berfungsi sebagai subyek dan predikat, atau subyek predikat, dan obyek
merupakan unsur wajib, sedang unsur yang ditambahkan merupakan unsur manasuka.
Unsur wajib berfungsi sebagai fundamen yang di atasnya pola dasar itu dibangun.
Dua unsur mana suka berfungsi untuk memungkinkan seorang penulis mewujudkan
atau mengekspresikan berbagai bentuk dan segi pengalaman jiwanya.
4.
Kalimat
luas
Kalimat sederhana dan
kalimat luas dibedakan berdasarkan strukturnya.
a. Bentuk
kalimat luas
Cara
memahami kalimat luas adalah mempelajari proses pembentukannya atau
membandingkannya dengan kalimat sederhana. Pembentukan kalimat berlangsung
melalui suatu proses. Contoh kalimat sederhana:
Ø Orang
tua itu kedinginan.
Ø Badannya
menggigil.
Hasilnya
dua kalimat sederhana. Tetapi bila dinyatakan sekali jalan, hasilnya adalah
sebuah pernyataan yang berisi dua buah informasi atau bisa disebut kalimat dengan
luas:
v Orang
tua itu kedinginan, badannya menggigil.
Bentuk kalimat luas
adalah gabungan dari beberapa buah kalimat sederhana, yang hubungannya sangat
erat.
b. Pola
dasar kalimat luas
Pola
dasar sebuah kalimat kalimat luas terdiri dari ruas-ruas dan masing-masing ruas
menyerupai sebuah kalimat sederhana. Jumlah ruas sama dengan banyaknya kalimat
sederhana yang mendasari pembentukan kalimat luas itu.
Contoh
dalam bentuk empat ruas : Kalau anda setuju/ dan bersedia menanggung resiko/
baiklah kita siapkan syarat-syaratnya selagi waktu masih ada.
c. Subyek dan predikat dalam kalimat luas
Ruas-ruas
adalah sebuah kalimat sederhana, yang berisi satu informasi, yang telah melalui
proses perangkaian dalam pembentukan sebuah kalimat luas. Karena ruas-ruas itu
berasal dari sebuah kalimat sederhana,maka pola dasar kalimat sederhana ada
padanya.
d. Unsur
penghubung dalam kalimat luas
Sebuah
kalimat luas terdapat unsur penghubung sebab, kalimat luas itu terbentuk
melalui proses penghubungan konstruksi-konstruksi yang berisi satu informasi,dengan
kata lain kalimat luas itu terbentuk lewat penghubungan dua kalimat sederhana
atau lebih. Macam-macam ragam kalimat Indonesia dalam karya tulis yaitu,
§ Kalimat
luas yang dihubungkan oleh situasi atau Hubungan situasi, Contoh:
1. Waktu
ayah sedang membaca surat kabar
2. Ibu
menjahit
3. Saya
menyalin pelajaran
4. Adik
asyik bermain dengan gelandongnya.
Jadi, yang dimaksud
dengan hubungan situasi adalah suatu keadaan di mana tidak terdapat unsur
formal yang menghubungkan beberapa buah kalimat sederhana menjadi sebuah
kalimat luas.
§ Kalimat
luas yang dihubungkan secara elips atau Hubungan elips.
Dalam sebuah kalimat
luas yang mempunyai hubungan elips, penulis hanya menyebutkan satu kali saja
satu unsur tertentu. Artinya, dalam ruas-ruas lain kalimat itu seakan-akan ada
unsur yang hilang lenyap. Contoh:
1. Ia
mengarang untuk satu tujuan.
2. Tujuanya
membela nasib orang-orang lemah
Dihubungkan ia
mengarang untuk satu tujuan, membela nasib orang-orang lemah. Jadi, dari contoh
di atas unsur yang seakan-akan lenyap madalah subyek. Terlihat pada ruas kedua
kalimat luas itu, yakni ‘’ membela nasib orang-orang lemah’’, yang memang
ternyata tidak mempunyai subyek lagi.
3. Kalimat
luas yang dihubungkan oleh kata atau kelompok kata tertentu atau Hubungan
dengan kata penghubung. Dengan kata atau kelompok kata tertentu, yang disebut
kata penghubung, penulis juga dapat membangun sebuah kalimat luas. Jadi, di
sini dipakai unsur formal seperti, dan, bahwa, kalau, setelah, oleh sebab itu,
dan sekiranya. Contoh:
Ø Ada
semacam kecemasan di kalangan generasi muda bahwa pembabatan hutan secara semena-mena akan berakibat langsung
terhadap masa depan mereka.
Ø Kami
yakin bisa, asal untuk itu Tuan
tidak takut berkorban.
e. Sifat
hubungan dan penggeseran ke depan
Dalam
upaya meningkatkan keterampilan membangun kalimat luas yang paling efektif, dan
salah satu caranya ialah, mempelajari bentuk sifat,serta fungsi kata
penghubung, yang lazim beroperasi dalam kalimat luas bahasa Indonesia. Hal yang
lebih penting lagi di samping itu,ialah kedudukan kata penghubung itu sendiri,
yang lokasinya dapat digeser-geser ke bagian tengah dan bagian depan sebuah
kalimat luas. Dengan perggeseran itu, kadang-kadang ternyata dapat dihasilkan
atau dibangkitkan kalimat luas yang lebih efektif. Contoh:
Mereka
akan bertindak kalau kita masih juga
mungundur-undur penyelesaian ini.
Dengan menggeser kata
kalau ke bagian depan, kalimat itu kadang-kadang terasa lebih efektif.
Kalau kita masih juga
mengundur-undur penyelesaian itu, mereka akan bertindak.
v Hubungan
kewaktuan
Tergolong ke dalam
jenis ini ialah semua kata penghubung yang dapat membentuk ruas kalimat yang
menunjukkan keterangan tentang waktu. Contoh:
o Mereka
meneruskan perjalanan ketika hujan
mulai agak reda.
Digeser kedepan
menjadi: Ketika hujan mulaiagak
reda, mereka meneruskan perjalanan.
v Hubungan
sebab
Apabiba salah satu ruas
kalimat luas menyatakan sebab dari apa yang diungkapkan pada ruas yang lain.Penulis
dapat memilih sebuah kata penghubung tertentu. Misalnya:
Para
anggota Pasaran Bersama Eropa terpaksa bersidang lantaran negara-negara Arab menaikkan harga minyak mereka.
Digeser kedepan
menjadi: lantaran negara-negara Arab
menaikkan harga minyak mereka, Para anggota Pasaran Bersama Eropa terpaksa
bersidang.
v Hubungan
Akibat
Dalam satu kalimat
luas, sebuah ruasnya ada kalanya menyatakan akibat dari apa yang telah
terungkap dalam ruas sebelumnya. Untuk menyatakan nhubungan akibat serupa ini
bisa digunakan kata sehingga, kelompok kata oleh sebab itu, dan lain-lain. Contoh:
Hatinya
telah demikian kesal sehingga tak tahu lagi apa yang mesti ia kerjakan.
Jadi, ruas sebelah
kanan menyatakan akibat dari apa yang dinyatakan oleh ruas sebelah kiri. Tak
tahu lagi apa yang mesti bdikerjakannya adalah akibat dari hatinya telah
demikian kesal.
v Hubungan
Persyaratan
Sifat lain dari kata
penghubung dalam sebuah kalimat luas adalah penunjuk hubungan persyaratan.
Artinya, ruas yang ditempati oleh kata penghubung itu menyatakan persyaratan
terhadap pernyataan yang terdapat di dalam ruas lain. Contoh: Buku ini akan cepat hancur kalau sampulnya tak segera juga
dipasang.
Jadi kalau digeser
kedepan menjadi, Kalau nsampulnya
tidak segera juga dipasang, buku ini akan cepat hancur
v Hubungan
Tujuan
Disini tujuan yang
dimaksud oleh ruas yang satu ditunjukkan oleh ruas yang ditempati oleh kata
penghubung itu. Contoh:
Makanlah
obat ini agar segera sakit anda lekas sembuh
Jadi jika digeser
kedepan menjadi, Agar sakit anda lekas sembuh, makanlah obat ini.
v Hubungan
perlawanan
Di sini ruas yang
ditempati kata penghubung yang bersangkutan menyatakan perlawanan terhadap
pernyataan ruas yang lain. Contoh:
Saya
tetap ikut dengan kanda sekalipun bumi ini akan meledak
Jadi jika digeser
kedepan menjadi, Sekalipun bumi ini akan meledak, saya tetap ikut dengan kanda.
v Hubungan
Perbandingan
Untuk menyatakan suatu
perbandingan dapat digunakan kata penghubung seperti, seakan, bagai (kan), serasa,ibarat,
laksana, seumpama, seolah, atau boleh juga seolah-olah, seakan-akan. Contoh:
Angkuhnya
bukan main, seakan rumah itu punya nenek moyangnya
Jadi jika digeser
kedepan menjadi, Seakan rumah itu punya nenek moyangnya, (maka) angkuhnya bukan
main.
f. Ruas
utama dan ruas pembantu
Dalam
sebuah kalimat, kedudukan ruas itu btidak sama; ruas yang satu lebih tinggi
dari ruas yang lain. Jadi, ada ruas yang kedudukanya istimewa, yang memegang
peran utama di dalam kalimat itu. Oleh sebab itu, ruas ini pantas disebut ruas
utama sedangkan yang lain ruas bawahan. Ruas utama dari kalimat luas berikut
ini adalah bagian yang dicetak tebal.
Contoh: Keadaan demikian mencapai puncaknya
tatkala suatu hari Raja Rahwana dari Alengka mengirimkan utusan meminta anaknya
pula.
Menjadi,
Tatkala suatu hari Raja Rahwana dari Alengka mengirimkan utusan meminta anaknya
pula, keadaan demikian mencapai
puncaknya.
o Hakikat
Ruas utama
Dalam ruas utama inilah
terletak pokok pikiran atau inti maksud yang hendak disampaikan oleh penulis. Dengan
kata lain, isi kalimat itu seluruhnya terletak disana.
o Hakikat
Ruas Bawahan
Ruas bawahan berfungsi
membantu dan menerangkan, agar kalimat luas itu secara keseluruhan merupakan
pernyataan yang dapat memberikan kesan yang mantap kepada pembaca. Dilihat dari
struktur, ruas bawahan merupakan unsur yang memungkinkan terbentuknya sebuah
kalimat luas, yang perlu ada si dalam sebuah alinea.
5.
Kalimat
Gabung
Kalimat
gabung memiliki pola yang berbeda dengan kalimat sederhana dan berlainan dengan
pola kalimat luas. Untuk terampil menulis karangan yang efektif, perlu mengenal
beberapa aspeknya, memahami aspek itu, dan kemudian mahir membangkitkan kalimat
gabung tersebut.
Bentuk
kalimat gabung
Disebut
kalimat gabung karena, unsur yang sama di dalam kalimat ini digabung menjadi
satu dan melalui proses penggabungan unsur subyek yang kebetulan serupa. Contoh:
Anak itu rajin. Anak
itu pandai. Anak itu berkelakuan baik.
Jika digabung, Anak itu pandai,rajin, dan
berkelakuan baik.
III.
KALIMAT
BERGAYA
Salah satu
kenyataan pada penulis yang “baru mulai”,
mereka terlalu disibukkan oleh persoalan tentang “apa yang akan dikatakan” didalam karangan mereka. Sedangkan gaya
kalimat tidak menitikberatkan persoalan pada “apa yang hendak dikatakan”, tetapi menekankan pada segi “bagaimana mengatakanya”. Hal tentang
bagaimana mengatakan itu akan dilihat pada bab berikut:
1.
Penulisan
dengan Langgam Berbicara
Dalam
mengarang hendaknya, Anda menulis dengan langgam berbicara. Sebab pembaca tidak
dibuatnya pasif, tapi mereka seperti diajak omong tentang sesuatu. Pada
hakikatnya, mengarang sama halnya dengan berbicara. Mengarang kurang lebih sama
dengan berbicara, ahli bahasa menggunakan ungkapan khusus untuk maksud ini
“mengarang mewakilkan pembicaraan keatas kertas”. Kalimat tertulis wakil dari
kalimat yang diucapkan.
Menulis
dengan langgam berbicara sebaiknya mengikuti nasihat Rudolf Flesch “rahasia
menulis karangan efektif itu sederhana saja. Bicaralah pada pembaca. Seakan
pembaca membaca surat yang anda tulis itu tengah duduk didepan anda”
Pokok
persoalan agar membentuk kalimat bertenaga agar tidak terkesan kaku adalah
mempelajari gaya kalimat. Dalam gaya kalimat bertalian dengan tiga aspek yakni
(1) aspek pemilihan kata, (2) aspek penyingkatan, dan (3) aspek yang menyangkut
pola kalimat tertentu.
1.2 Pemilihan
Kata
Faktor pemilihan kata
turut menentukan tenaga sebuah kalimat. Maka dari itu seorang penulis yang
telah berpengalaman mahir dalam memilih kata yang sesuai dan mengoperasikan
kata secara kompak. Penulis berpengalaman juga mahir dalam menggoreksi kata
yang “impoten” mengganti atau menjadikan kata tersebut mempunyai makna dan
tenaga.
a) Pilihan
Kata yang Tepat
Dalam pilih memilih
kata, yang penting supaya kata itu benar-benar mewakili apa yang kita maksud.
Sering kali kita binggung menentukan sebuah kata yang tepat pada kalimat.
Pertanyaan yang dalam hal ini sering ditanyakan adalah “apa tak ada kata lain
yang lebih tepat?”. Dan ketika seandainya ternyata ada kata lain yang tepat
maka segaralah menukarnya.
b) Gunakan
Kata yang Bertenaga
Ada hubungan erat
antara fonem-fonem yang membentuk sebuah kata dengan tenaga kata, seperti kata
yang menunjukkan kerja atau gerak, lebih bertenaga dari kata yang menunjukkan
benda atau keadaan. Adapula kata yang dibuat lebih bertenaga dengan menggunakan
morfem tententu, semisal morfem di dan
ter lebih bertenaga pula dari pada
morfem ke, ber atau kata yang tidak
menggunakan morfem sama sekali. Sementara para penulis Indonesia yang lebih
mutakhir, untuk mencapai kalimat yang berkekuatan maksimal, mereka telah
menggurangi penggunaan morfem me dalam
pemilihan kata.
c) Hindari
Kata Klise
Hindari kata klise,
atau yang bisa disebut dengan kata yang sukar dimengerti. Karena pembaca akan
mudah bosan, sehingga hindari kata-kata yang sukar dimengerti oleh pembaca.
Jangan ragu untuk menggunakan kata seperti gampang,
lacur, anjing dan kata tabu lainya, asal penulis menggunakan kata tersebut
dengan bijak.
d) Konotasi
dan Denotasi
Kata denotatif adalah
kata yang lebih bersifat rasional. Sedangkan kata konotatif adalah kata yang
lebih bersifat emosional. Pemberian konotasi apa saja pada sebuah kata dapat
membuat kalimat yang dibuat oleh penulis akan bertenaga.
e) Kata
Yang Tidak Familier
Tidak semua kata
familier bagi sebagian kalangan masyarakat. Kata familier itu pada umumnya
adalah istilah asing atau kata yang berasal dari bahasa daerah. Menempatkan
sebuat kata yang tidak familier dalam sebuah kalimat bukannya akan membuat
kalimat tersebut bertenaga melainkan bisa dikatakan kalimat tersebut tidak
fungsional. Akan tetapi penulis juga tidak bisa menghindari penggunaan kata
asing dalam sebuah kalimat, karena sejarah perkembangan bahasa Indonesia modern
membuktikan adanya alkulturasi budaya dalam setiap sisi kehidupan. Tak ada
salahnya menggunakan kata dengan istilah asing, asal penulis berusaha untuk
tidak menimbulkan efek negatif terhadap kalimat sendiri. Ada beberapa ketentuan
untuk menghindari efek negatif yang dimaksud. (1) istilah asing dapat digunakan
sepanjang istilah Indonesianya belum ada, (2) menyesuaikan ejaanya dengan
bahasa Indonesia dan (3) menyesuaikan bentuk kata itu dengan morfologi bahasa
Indonesia.
2.2 Penyingkatan
Penyingkatan dapat
menghasilkan kalimat yang lebih bertenaga. Mengadakan penyingkatan adalah cara
yang efektif untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang efektif dan efisien.
Ada tiga macam kategori penyingkatan yaitu pertama, penyingkatan yang bersifat
merombak seluruh kalimat. Kedua, penyingkatan kata pada bagian yang dirasa
kurang perlu. Dan ketiga penyinngkatan ungkapan yang berkepanjangan.
a) Penyingkatan
kalimat
Lumrah jika kita
menjumpai kalimat yang panjang sekali, ini bukanlah suatu persoalan melainkan
terkadang diperlukan tindakan penyingkatan kata. Penyingkatan tersebut akan
memberikan efek yang baik. Penyingkatan tersebut membantu pembaca untuk
memahami dan menangkap gagasan apa yang hendak penulis kemukakan.
b) Penyingkatan
kata
Dalam membuat kalimat
lebih bertenaga “menyingkat” habis kata yang kurang perlu juga biasa dilakukan
oleh penulis ternama sekalipun. Sasaranya adalah kata yang berlebih, yang
kurang jelas fungsinya didalam kalimat.
c) Pembabatan
Pengungkapan yang Berkepanjangan
Pengungkapan yang
berkepanjangan seringkali menyebabkan sebuah kalimat kurang bertenaga, sehingga
terkadang perlu untuk menggubahnya menjadi bentuk yang lebih singkat dan padat.
Terkadang dalam sebuah kalimat mempunyai kontruksi kata yang tidak salah, akan
tetapi suatu kalimat yang mempunyai kontruksi yang tidak salah belum tentu
kalimat tersebut efektif. Seperti contoh “mempunyai keluhan” akan lebih baik
menggunakan kata “mengeluh”. Sehingga penyingkatan tersebut dapat membangun
kalimat menjadi kalimat yang bertenaga dan efektif.
3.2 Pola
yang Efektif
Pola yang efektif
sebetulnya tidak ada, yang ada adalah cara yang efektif dalam mengisi pola itu,
guna merangkaikan maksud menjadi jelas. Seorang penulis yang efektif menguasai
banyak cara untuk menonjolkan unsur yang dirasanya penting dalam kalimatnya.
a) Pararelisme
Dalam kalimat yang
efektif, gaya pararelisme menempatkan unsur yang setara dalam kontruksi yang
sama, misal;
Jauh
berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasai
Seorang penulis yang
efektif biasanya pintar memanfaatkan gaya pararelisme untuk membuat kalimat
mereka indah dan menyenangkan, sebaliknya kalimat yang tidak memperdulikan
keselarasan dan keselarian akan terasa canggung dan mungkin mengaburkan
pengertian.
b) Repetisi
Repetisi adalah
kekuatan sebuah kalimat yang dapat dibangkitkan dengan mengulang sebuah kata
yang dianggap penting dalam bagian kalimatnya. Akan tetapi tidak seluruh
pengulangan itu dapat dikatakan repetisi yang efektif jika berkali-kali diulang
sehingga menghasilkan kalimat yang lemah dan tidak menarik.
Contoh: Mengarang
sebuah buku agama berbeda syaratnya dengan mengarang buku cerita
fiksi.
c) Inversi
Struktur urutan inversi
adalah predikat + subyek. Artinya, dalam pola dasar kalimat itu predikatnya
muncul lebih dahulu, lalu dibagian belakangnya muncul subyek.
Contoh: Sudah
berkali-kali tersiar namanya dalam surat kabar ibukota.
Seharusnya menurut pola
dasar kalimat tersusun, namanya tersiar. Akan tetapi, guna
mencapai efek yang lebih besar, penulis dapat membalikkan polanya itu menjadi
tersiar namanya.
IV.
KALIMAT BERVARIASI
Kalimat yang
efektif itu bervariasi. Pada sebuah alinea, kalimat yang bervariasi itu
merupakan’’santapan’’ yang menarik dan nikmat. Kalimat itu dapat meriangkan
pembaca, bukan saja karena memahaminya mudah, tetapi terutama karena sifatnya
yang menyenangkan.
Macam-macam variasi kalimat
1. Variasi
dalam cara memulai
Kalimat pada umumnya
dapat dimulai dengan, Subyek, predikat, sebuah kata modalitas, sebuah frase,
sebuah klausa, dan penekanan yang efektif. Penulis yang berpengalaman
menggunakan cara di atas untuk menghasilkan alinea yang kalimat-kalimatnya
bervariasi.
a. Memulai
Kalimat dengan Subyek
Subyek
biasanya terletak pada bagian depan dalam sebuah kalimat. Banyak dipakai dalam
pemakaiaan bahasa sehari-hari dan merupakan cara yang umum di dalam memulai
sebuah kalimat.
Contoh:
Mencari kekayaan bukanlah hal yang tidak halal.
b.
Memulai kalimat dengan
predikat
Untuk
menciptakan variasi dalam sebuah alinea, dapat mengawali kalimat dengan
predikat. Artinya, selain mengawalinya dengan subyek atau dengan cara lain,
dalam menciptakan variasi dapat melakukanya dengan membalikkan predikat ke
depan dalam sebuah kalimat. Kalimat yang dimulai dengan predikat juga tak kuran
keefektifanya, lebih-lebih untuk keperluan variasi.
c. Memulai
kalimat dengan sebuah kata modal
Untuk
memberikan variasi kalimat dalam sebuah alinea, penulis dapat menggunakan
sebuah kata modal untuk mengawali kalimatnya.Sebuah alinea niscaya akan lebih
menarik bila didalamnya terdapat sebuah kalimat atau lebih yang dimulai dengan
kata modal di samping kalimat yang diawali dengan subyek atau cara lain.
Contoh:
Agaknya persoalan itu akan cepat selesai kalau yang berwajib ikut turun
tangan.
d. Memulai
kalimat dengan sebuah frase
Kalimat
yang diawali dengan sebuah frase dapat pula digunakan untuk keperluan variasi
di dalam sebuah alinea.Kalimat yang dimulai dengan frase itu bisa ditempatkan
pada permulaan alinea, ditengah atau pada bagian akhir kalimat.
Contoh:
Sambil menghapus air mata, anak itu terus membuntuti ibunya.
e. Memulai
kalimat dengan sebuah klausa
Memulai
kalimat dengan sebuah klausa termasuk salah satu cara pula untuk menciptakan
adanya variasi. Seperti juga sebuah frase, sebuah klausa pun dapat menempati
posisi awal sebuah kalimat. Sebuah klausa hanya ditemui di dalam kalimat luas,
dan tidak memperhatikan apakah letaknya
di depan, di tengah, atau dibelakang.
Contoh:
Seandainya manusia tiada berbahasa, alangkah sunyinya dunia ini.
f. Memulai
kalimat dengan penekanan yang efektif
Kalimat
yang dimulai dengan subyek, merupakan kalimat yang sangat komunikatif, mudah
dipahami, dan memikat. Kalimat yang selalu diawali dengan subyek menandakan ada
efek lain yang ingin dikejar oleh penulisnya. Walaupun ini tampaknya
bertentangan dengan prinsip-prinsip variasi, tetapi untuk mencari keefektifan
sebuah kalimat, tidak ada salahnya.
Contoh:
Kita sudah menyadari bagaimana eratnya hubungan antara ‘’buku’’ dan
‘’membaca’’.
2. Variasi
dalam panjang-pendek kalimat
Variasi kalimat bisa
pula diusahakan dengan sekaligus mempekerjakan kalimat pendek dan kalimat yang
agak panjang di dalam sebuah alinea. Kalimat pendek dan kalimat panjang
mempunyai nilai tersendiri. Kerja sama kedua jenis kalimat yang berbeda ukuran
ini biasanya dapat menghalau kejemuan, keletihan, dan sebaliknya bisa
memberikan tenaga yang memikat juga.
Contoh: Membiasakan
punya buku harian itu baik sekali. Kita dapat mengisinya secara teratur dengan
memasukkan butir-butir pengalaman hidup kita.
a. Keefektifan
kalimat singkat
Kalimat
singkat biasanya bertugas menyatakan penegasan atau kepastian. Terutama dalam
karangan yang bersifat argumentatif, fungsi kalimat itu jelas sekali. Bila ada
suatu sikap yang perlu ditegaskan, atau suatu kepastian yang perlu dinyatakan,
kaliamat singkatlah yang melaksanakanya.
Contoh:
Bagaimana seorang pengarang bisa sukses? Seorang pengarang yang berhasil
ialah pengarang yang sanggup menanamkan disiplin yang kuat atas diri dan
jiwanya sendiri terhadap dorongan-dorongan yang datang dari luar.
Jadi,
Bagaimana seorang pengarang bisa sukses?.Itu merupakan kalimat singkat yang
memberikan penegasan.
b. Keefektifan
kalimat panjang
Kalimat
panjang harus memberikan penekanan,uraian,ulasan, analisa, detil, alasan
tertentu, data dan lain sebagainya.Kalimat panjang berfungsi untuk memperjelas,
memerinci, supaya segala sesuatunya menjadi lebih baik terang serta meyakinkan.
Contoh,
kalimat panjang dalam bentuk penekanan:
Dan
saya yakin bahwa kebenaran dan kebahagiaan akan semerbak di dunia ini.
3.
Variasi dalam struktur kalimat
Adanya struktur kalimat
dalam sebuah alinea juga besar artinya dilihat dari sudut variasi. Alinea yang
demikian besarnya lebih menyenangkan, tidak seperti membaca alinea yang
struktur kalimatnya sama semua. Oleh sebab itu, penulis yang efektif sangat
memperhatikan pola kalimat yang terdapat dalam alinea mereka. Kalimat yang
efektif mencerminkan keragaman struktur dan di dalamnya dapat dijumpai kalimat
sederhana, kalimat luas, dan kalimat gabung.
4.
Variasi dalam jenis kalimat
Menurut para ahli tata
bahasa, mereka membedakan kalimat atas empat jenis. Pertama, kalimat yang
berfungsi memberitahukan sesuatu baik informasi secara langsung maupun tidak
langsung, disebut kalimat berita. Kedua, kalimat yang fungsinya menyatakan
kehendak, keinginan, harapan, dan sebagainya disebut kalimat pinta. Ketiga,
kalimat yang menyatakan pertanyaan, dinamakan kalimat tanya. Keempat, kalimat
yang berfungsi menyatakan perasaan yang kuat, bernama kalimat seru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar