Senin, 13 Oktober 2014



kalimat efektif abdul razak

1.      Kalimat dalam Karangan yang Efektif
Faktor kalimatlah yang terutama menjadikan sebuah karya tulis efektif bagi pembaca. Sebab kalimat itulah yang membawa pembaca berkenalan dengan isi suatu bacaan. Perkenalan pertama terjadi karena ketika ia barun saja mulai membacanya. Selanjutnya perkenalan pertama itu mungkin berhenti dan mungkin pula berkelanjutan.Dalam sebuah karya tulis, kalimat yang baik justru biasa dengan mudah mengantarkan pembaca padab maksud  yang dipaparkan penulinya. Pembaca mudah mengenal bahwa di situ diuraikan sesuatu yang ada gunanya diketahui.Sebaliknya, ada karangan yang isinya tidak terlalu bagus dan kualitas isi pun tidak pula begitu mencengangkan,tetapi enak dibaca.Karangan itu memikat sebab dihidangkan dalam kalimat yang bersahabat dengan pembaca.

2.      Kalimat Efektif
Konsep kalimat efektif dikenal dalam hubungan fungsi kalimat selaku alat komunikasi. Artinya, setiap kalimat terlibat dalam proses penyampaian dan penerimaan. Apa yang disampaikan dan yang diterima itu mungkin berupa ide, gagasan, pesan, pengertian atau informasi.Kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlangsung dengan seempurna. Dilihat dari fungsinya, kalimat adalah alat komunikasi. Kalimat yang polanya salah menurut tata bahasa, jelas tidak efektif. Namun, kalimat yang menurut tata bahasa betul polanya juga belum tentu efektif. Syarat kalimat efektif yaitu struktura,polanya harus benar, kalimat itu harus punya tenaga yang menarik, dan dalam karya tulis membentuk kerja sama lewat sistem yang bervariasi.
3.      Beban kalimat dalam komunikasi
Dalam peristiwa komunikasi, kalimat mempunyai beban yang betul-betul tidak ringan. Beban tugasnya bukanlah hanya menyangkut proses penyampaian dan penerimaan informasi belaka. Fungsi kalimat itu tidak hanya untuk memberitahukan atau menanyakan sesuatu, tetapi mencakup semua ekspresi kejiwaan manusia yang sangat majemuk.
4.      Kalimat dalam pengajaran bahasa
Pengajaran bahasa yang berlandaskan teori linguistik mengakui bahwa dalam hal pemilihan materi, penekanan harus lebih diberikan kepada masalah kalimat dan pemakaiannya. Tujuan primer harus diletakkan pada keterampilan menggunakan kalimat secara efektif, baik untuk memberitahukan atau menanyakan sesuatu maupun untuk membahaskan masalah dan membahaskan ekspresi kejiwaan. Sebab, kalimat adalah unsur kesatuan yang paling kecil dari bahasa.  Dalam penilaian orang terhadap hasil pengajaran bahasa indonesia, mempunyai nilai belum memuaskan. Menurut ahlinya, hasil yang belum memuaskan itu disebabkan oleh beberapa hal yaitu, (1) materi yang diajarkan terlalu menekankan kepada pengenalan istilah dan hukum gramatikal, (2) contoh-contoh maupun bahan-bahan latihan kalimat umumnya diberikan dalam bentuk yang terpisah-pisah atao sepotong-potong, (3) sasaran yang diingikan guru kebanyakan terbatas penghindaran kesalahan-kesalahan gramartikal.

                                                                                                                                           I.            STRUKTUR KALIMAT
Kalimat efektif selalu memiliki struktur atau bentuk yang jelas. Setiap unsur yang terdapat didalamnya yang pada umumnya terdiri dari kata harus menempati posisi yang jelas dalam hubungan satu sama lain.Kata-kata itu mesti diurutkan menurut aturan-aturan yang sudah dibiasakan. Tidak boleh menyimpang apalagi bertentangan. Setiap penyimpangan biasanya akan menimbulkan kelainan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat pemakai bahasa itu.
Misalnya, kalimat saya menulis surat buat papa. Efek yang ditimbulkanya akan sangat lain bila dikatakan, antara lain yaitu
·         Buat papa menulis surat saya
·         Surat saya menulis buat papa
·         Menulis saya surat buat papa
1.      Struktur kalimat dalam karya tulis
Studi tentang struktur kalimat termasuk bidang studi tata bahasa. Ilmu tata bahasa yang khusus mempelajari struktur kalimat disebut ilmu tata kalimat atau sintaksis. Walaupun yang dipelajari ilmu ini hanya mengenai kalimat, namun segi-seginya amat luas dan kompleks. Untuk ketrampilan menghasilkan kalimat efektif, tidak semua ilmu tata kalimat itu perlu dipelajari dulu. Yang perlu diketahui hanya beberapa segi yang langsung berkaitan dengan hal-hal yang memudahkan Anda membuat kaliamat efektif itu. Beberapa segi yang dimaksud bertalian dengan pengetahuan dasar tentang struktur kalimat. Pengetahuan dasar tentang struktur kalimat memang sagat diperlukan untuk terampil memproduksi kalimat yang baik, terutama dalam rangka penciptaan karya tulis yang efektif dan penulis yang baik harus mampu menilai kalimatnya sendiri, menentukan dimana letak salahnya bila terasa janggal, dan bagaimana memperbaikinya agar menjadi lebih baik.

2.      Tiga Jenis Struktur Kalimat
Dalam suatu karya tulis, struktur kalimat hanya ada tiga macam yaitu (1) kalimat sedrhana, (2) kalimat luas dan (3) kalimat hubung.
Sebagai contoh dua buah kalimat sederhana :
(1) aku sebetulnya seorang artis.
(2) Sukses yang kuperoleh ditempat lain, tidak lain karena nasib baik.
Satu buah kalimat gabung
Aku bekerja sebagai penulis interviu dan artikel mengenai bintang film dan dan tokoh-tokoh Hollywood ynag dimuat di luar negeri dalam mahalah perdagangan dan film Inggris.
Kemudian dua buah kalimat luas :
(1) Pekerjaan itu tidak kusukai, tapi aku memperoleh penghasilan yang besar darinya.
(2) sungguh, sukses yang kuperoleh lebih daripada cukup kesenangan dan keselamatan terjamin
Kutipan diatas dapat dikatakan sangat efektif. Buktinya, buku dari mana karangan itu dikutip, sampai sekarang telah diterjemahkan kedalam lebih dari dua puluh bahasa didunia. Faktor apa saja yang membuat karangan itu demikian efektif?. Pertama, kalimatnya memiliki struktur yang benar dan mempunyai kesatuan bentuk yang bulat. Kedua, penulisnya pintar sekali membangun kerja sama yang kompak dari kalimat ketiga jenis struktur tadi.
a.      Unsur Unsur Kalimat
Dilihat dari sudut struktur, kalimat terdiri dari unsur, yakni berupa kata. Unsur itulah yang bersama-sama dalam menurut sistem tertentu membangun stuktur itu. Jadi, kita dalam hal ini dilihat dari fungsinya dalam membangun sebuah struktur, suatu kesatuan bentuk di dalam bahasa.
1.           Subyek
Subyek adalah unsur yang diperkatakan dalam sebuah kalimat. Kata-kata yang dicetak tebal pada contoh dibahwah ini berfungsi sebagai subyek dalam kalimat yang bersangkutan.
Aku sebetulnya seorang artis
Contoh Aku dalam kalimat tersebut merupakan subyek.
2.           Predikat
Kata yang dalam sebuah kalimat berfungsi memberitahukan apa, mengapa, atau bagaimana subyek itu disebut predikat.
Aku sebetulnya seorang artis
Kata artis merupakan unsur predikat, sebab kata artis menceritakan tentang “aku” (subyek). Seperti halnnya subyek, predikat juga sering didampingi oleh kata atau kelompok kata lain yang berfungsi sebagai keterangan predikat.
3.           Pelengkap
Seringkali predikat sebuah kalimat harus dilengkapi lagi dengan unsur lain, sehingga terjadilah suatu pernyataan yang lebih lengkap. Misal;
Adik menulis surat
Bagian yang di cetak tebal pada contoh diatasa adalah unsur kalimat berfungsi sebagai pelengkap, terlihat pula bahwa unsur pelengkap tersebut selalu berada di belakang predikat.
4.           Kata Perangkai
Unsur ini berfungsi merangkaikan dua unsur subyek, dua unsur predikat atau dua unsur pelengkap didalam sebuah kalimat. Unsur kalimat yang berfungsi sebagai kata perangkai ini sering diwakili oleh kata-kata dan, dengan, serta, beserta, bersama dan kadang-kadang oleh kata juga.  
5.           Kata Pelengkap
Ada kalanya unsur ini terdiri atas satu kata dan ada pula yang terdiri atas satu kelompok kata; berfungsi untuk menghubungkan (jika perlu) dua buah informasi didalam satu kalimat. Seperti contoh dibawah ini
Pekerjaan itu tidak kusukai, tapi aku memperoleh penghasilan yang besar darinya.
6.           Kata Modalitas
Unsur ini sering juga disebut “kata warna”, berfungsi untuk mengubah keseluruhan arti sebuah kalimat. Seperti contohnya ;
Aku sebetulnya seorang artis
Dengan masuknya kata sebetulnya dalam kaliamat tersebut, maka pengertian kalimat-kalimat itu berubah secara keseluruhan. Dengan masuknya sebuah kata modalitas kedalam sebuah kalimat, maka kalimat itu mungkin berubah menjadi sebuah pernyataan tegas, yang ragu-ragu, yang lembut, yang pasti dan lain sebagainya.
7.           Frase
Bentuknya merupakan sebuah kelompok kata dan sering kali berfungsi sebagai keterangan predikat untuk keperluan-keperluan tertentu. Misalnya untuk menyatakan keterangan waktu, keterangan sebab, keterangan tempat dan lain sebagainya
8.           Klausa
Sama dengan sebuah frase, klausa juga berbentuk sebuah kelompok kata. Bedanya kalusa mempunyai unsur-unsur subyek dan predikat, frase tidak.
9.           Bentuk absolut
Selain yang dikemukakan diatas, ada lagi jenis unsur lain yang acap kali muncul didalam sebuah kalimat. Unsur ini kita namakan bentu absolut, sebab secara gramatikal tidak punyahubungan apa-apa dengan unsur-unsur yang lain didalam sebuah kalimat.
Akhirnya, perlu dicatat bahwa dua diantara sembilan unsur yang diuraikan diatas merupakan unsur wajib, yaitu subyek dan predikat. Sebuah kalimat – sebagai satuan terkecil dari bahasa – harus memiliki kedua unsur itu. Unsur ynag lain kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak ada.

                                                                                                                                     II.            KALIMAT SEDERHANA
Kalimat sederhana maupun kalimat luas adalah masalah struktur, walaupun pada umumnya kalimat sederhana memang banyak yang lebih pendek dari pada kalimat luas. Ada perbandingan esensial antara kalimat sederhana dengan kalimat luas. Pertama, sebuah kalimat sederhana hanya memberikan satu informasi, sedang sebuah kalimat luas berisi informasi lebih dari satu. Kedua, beberapa kalimat sedrhana dapat didudun menjadi sebuah kalimat luas dan sebuah kalimat luas bisa pula dipisah menjadi satu buah kalimat sederhana.
1.        Bentuk Kalimat Sederhana
Kalimat sederhana adalah dasar dari semua macam ragam kalimat yang lain dan secara alamiah kita telah dilatih sejak kecil menggunakanya. Kalimat sederhana itu memang sederhana, baik bentuk maupun isinya. Dari segi bentuk, unsur katanya tidak banyak, sedang dari sudaut isinya ia hanya memberikan satu informasi atau sebuah pikiran. Oleh sebab itu, memahaminya sangat mudah dan membuat bentuk ini lebih disenangi oleh pendengar maupun pembaca. Dan keadaan ini universal, berlaku disemua tempat dan waktu.
Sebaliknya, kalimat luas berisi banyak informasi. Masih lumayan kalau dua atau tiga informasi saja. Kalau empat, lima dan seterusnya, ia bisa menjadi terlalu luas, bisa membuat pendengar atau pembaca repot menangkap.
2.        Pola Kalimat Sederhana
Pola kalimat merupakan peristiwa tetap, yang berubah adalah ukuran banyak sediknya kata sebagai unsur yang membangun pola itu. Yang berubah adalah kata yang digunakanya, sebagai pendukung pengertian yang hendak disampaikan. Dan berubah adalah variasinya. Kadang-kadang suatu unsur ditaruh dibagian depan kalimat, kadang-kadang ditengah dan kadang-kadang dibelakang.
Dalam kalimat, peristiwa tetap itu merupakan pola dasar kalimat. Pola dasar sebuah kalimat sederhana sesuai dengan namanya juga sangat sedrhana. Unsurnya terdiri atas dua bagian. Bagian pertama merupakan sesuatu yang dibicarakan didalam kalimat itu. Sedang bagian kedua merupakan unsur yang fungsinya memberitahukan apa atau bagaimana unsur yang dibicarakan tadi.
Berikut pola dasar kalimat sederhana dapat pula dilukiskan sebagai berikut :
Subyek
Predikat
Anaknya
Perkawinan itu
Bersinnya
Kegemaranya membaca
Rasa gemetar yang dingin
Keadaanya
Udara
Berkata itu
Seorang lelaki
Terpaksa dibatalkan
Terdengar seperti kuda
Sangat penting gunanya
Turun naik di punggungnya
Baik sekali
Sangat dingin
Mudah

Jelas bahwa bagaimanapun sederhanya sebuah kalimat polanya selalu terdiri dari dua bagian yaitu unsur subyek maupun unsur predikat. Tanpa salah satu unsur tersebut, kesatuan itu akan rusak, tidak merupakan suatu kesatuan yang utuh dan bulat, dan tidak dapat disebut sebuah kalimat. Sebalinya jika kedua unsur tersebut ada, pola itu akan tetap utuh meskipun sejumlah kata dilenyapkan.
Terkadang dengan unsur-unsur subyek dan predikat saja terasa belum cukup untuk menjelmakan suatu maksud. Misal ayah membeli. Ini jelas belum memberikan informasi yang lengkap. Maka diperlukan unsur lain agar maksud tersebut menjadi bermakna, unsur tersebut kita kenal dengan istilah pelengkap. Umpamanya Ayah membeli sepeda. Kini baru lengkap dan jelas maknanya, kemudian pola dasar sebuah kalimat sederhana bisa pula berbentuk subyek + predikat + pelengkap.
Tidak semua kalimat sederhana memiliki pelengkap. Kalimat yang predikatnya kata kerja intransitif tidak memerlukan unsur pelengkap. Misal gedung terbakar. Yanng memerlukan unsur pelengkap ialah kalimat yang predikatnya kata kerja transitif. Misal kata membeli, memukul dll.
3.        Mengembangkan Kalimat Sederhana
Proses menambahkan kata atau kelompok kata pada pola dasar kita sebut menggembangkan kalimat. Mengembangkan sebuah kalimat berarti menambahkan sejumlah unsur lain kepada pola dasar kalimat itu. Unsur lain itu tergantung pada apa yang hendak kita nyatakan. Seorang penulis dapat dengan bebas memilih kata yang diinginkannya untuk mengembangkan kalimat menurut keperluan. Ia juga bebas menggunakan kata-kata itu menurut jumlahnya. Jadi, mengembangkan sebuah kalimat berarti menambahkan sejumlah unsur lain kepada pola dasar kalimat itu. Terdapat dua macam unsur kalimat yang sifatnya satu sama lain berbeda. Unsur semula yang berfungsi sebagai subyek dan predikat, atau subyek predikat, dan obyek merupakan unsur wajib, sedang unsur yang ditambahkan merupakan unsur manasuka. Unsur wajib berfungsi sebagai fundamen yang di atasnya pola dasar itu dibangun. Dua unsur mana suka berfungsi untuk memungkinkan seorang penulis mewujudkan atau mengekspresikan berbagai bentuk dan segi pengalaman jiwanya.
4.        Kalimat luas
Kalimat sederhana dan kalimat luas dibedakan berdasarkan strukturnya.
a.       Bentuk kalimat luas
Cara memahami kalimat luas adalah mempelajari proses pembentukannya atau membandingkannya dengan kalimat sederhana. Pembentukan kalimat berlangsung melalui suatu proses. Contoh kalimat sederhana:
Ø  Orang tua itu kedinginan.
Ø  Badannya menggigil.
Hasilnya dua kalimat sederhana. Tetapi bila dinyatakan sekali jalan, hasilnya adalah sebuah pernyataan yang berisi dua buah informasi atau bisa disebut kalimat dengan luas:
v  Orang tua itu kedinginan, badannya menggigil.
Bentuk kalimat luas adalah gabungan dari beberapa buah kalimat sederhana, yang hubungannya sangat erat.
b.      Pola dasar kalimat luas
Pola dasar sebuah kalimat kalimat luas terdiri dari ruas-ruas dan masing-masing ruas menyerupai sebuah kalimat sederhana. Jumlah ruas sama dengan banyaknya kalimat sederhana yang mendasari pembentukan kalimat luas itu.
Contoh dalam bentuk empat ruas : Kalau anda setuju/ dan bersedia menanggung resiko/ baiklah kita siapkan syarat-syaratnya selagi waktu masih ada.
c.        Subyek dan predikat dalam kalimat luas
Ruas-ruas adalah sebuah kalimat sederhana, yang berisi satu informasi, yang telah melalui proses perangkaian dalam pembentukan sebuah kalimat luas. Karena ruas-ruas itu berasal dari sebuah kalimat sederhana,maka pola dasar kalimat sederhana ada padanya.
d.      Unsur penghubung dalam kalimat luas
Sebuah kalimat luas terdapat unsur penghubung sebab, kalimat luas itu terbentuk melalui proses penghubungan konstruksi-konstruksi yang berisi satu informasi,dengan kata lain kalimat luas itu terbentuk lewat penghubungan dua kalimat sederhana atau lebih. Macam-macam ragam kalimat Indonesia dalam karya tulis yaitu,
§  Kalimat luas yang dihubungkan oleh situasi atau Hubungan situasi, Contoh:
1.      Waktu ayah sedang membaca surat kabar
2.      Ibu menjahit
3.      Saya menyalin pelajaran
4.      Adik asyik bermain dengan gelandongnya.
Jadi, yang dimaksud dengan hubungan situasi adalah suatu keadaan di mana tidak terdapat unsur formal yang menghubungkan beberapa buah kalimat sederhana menjadi sebuah kalimat luas.
§  Kalimat luas yang dihubungkan secara elips atau Hubungan elips.
Dalam sebuah kalimat luas yang mempunyai hubungan elips, penulis hanya menyebutkan satu kali saja satu unsur tertentu. Artinya, dalam ruas-ruas lain kalimat itu seakan-akan ada unsur yang hilang lenyap. Contoh:
1.      Ia mengarang untuk satu tujuan.
2.      Tujuanya membela nasib orang-orang lemah
Dihubungkan ia mengarang untuk satu tujuan, membela nasib orang-orang lemah. Jadi, dari contoh di atas unsur yang seakan-akan lenyap madalah subyek. Terlihat pada ruas kedua kalimat luas itu, yakni ‘’ membela nasib orang-orang lemah’’, yang memang ternyata tidak mempunyai subyek lagi.
3.      Kalimat luas yang dihubungkan oleh kata atau kelompok kata tertentu atau Hubungan dengan kata penghubung. Dengan kata atau kelompok kata tertentu, yang disebut kata penghubung, penulis juga dapat membangun sebuah kalimat luas. Jadi, di sini dipakai unsur formal seperti, dan, bahwa, kalau, setelah, oleh sebab itu, dan sekiranya. Contoh:
Ø  Ada semacam kecemasan di kalangan generasi muda bahwa pembabatan hutan secara semena-mena akan berakibat langsung terhadap masa depan mereka.
Ø  Kami yakin bisa, asal untuk itu Tuan tidak takut berkorban.
e.       Sifat hubungan dan penggeseran ke depan
Dalam upaya meningkatkan keterampilan membangun kalimat luas yang paling efektif, dan salah satu caranya ialah, mempelajari bentuk sifat,serta fungsi kata penghubung, yang lazim beroperasi dalam kalimat luas bahasa Indonesia. Hal yang lebih penting lagi di samping itu,ialah kedudukan kata penghubung itu sendiri, yang lokasinya dapat digeser-geser ke bagian tengah dan bagian depan sebuah kalimat luas. Dengan perggeseran itu, kadang-kadang ternyata dapat dihasilkan atau dibangkitkan kalimat luas yang lebih efektif. Contoh:
Mereka akan bertindak kalau kita masih juga mungundur-undur penyelesaian ini.
Dengan menggeser kata kalau ke bagian depan, kalimat itu kadang-kadang terasa lebih efektif.
Kalau kita masih juga mengundur-undur penyelesaian itu, mereka akan bertindak.
v  Hubungan kewaktuan
Tergolong ke dalam jenis ini ialah semua kata penghubung yang dapat membentuk ruas kalimat yang menunjukkan keterangan tentang waktu. Contoh:
o   Mereka meneruskan perjalanan ketika hujan mulai agak reda.
Digeser kedepan menjadi: Ketika hujan mulaiagak reda, mereka meneruskan perjalanan.


v  Hubungan sebab
Apabiba salah satu ruas kalimat luas menyatakan sebab dari apa yang diungkapkan pada ruas yang lain.Penulis dapat memilih sebuah kata penghubung tertentu. Misalnya:
Para anggota Pasaran Bersama Eropa terpaksa bersidang lantaran negara-negara Arab menaikkan harga minyak mereka.
Digeser kedepan menjadi: lantaran negara-negara Arab menaikkan harga minyak mereka, Para anggota Pasaran Bersama Eropa terpaksa bersidang.
v  Hubungan Akibat
Dalam satu kalimat luas, sebuah ruasnya ada kalanya menyatakan akibat dari apa yang telah terungkap dalam ruas sebelumnya. Untuk menyatakan nhubungan akibat serupa ini bisa digunakan kata sehingga, kelompok kata oleh sebab itu, dan lain-lain. Contoh:
Hatinya telah demikian kesal sehingga tak tahu lagi apa yang mesti ia kerjakan.
Jadi, ruas sebelah kanan menyatakan akibat dari apa yang dinyatakan oleh ruas sebelah kiri. Tak tahu lagi apa yang mesti bdikerjakannya adalah akibat dari hatinya telah demikian kesal.
v  Hubungan Persyaratan
Sifat lain dari kata penghubung dalam sebuah kalimat luas adalah penunjuk hubungan persyaratan. Artinya, ruas yang ditempati oleh kata penghubung itu menyatakan persyaratan terhadap pernyataan yang terdapat di dalam ruas lain. Contoh: Buku ini akan cepat hancur kalau sampulnya tak segera juga dipasang.
Jadi kalau digeser kedepan menjadi, Kalau nsampulnya tidak segera juga dipasang, buku ini akan cepat hancur
v  Hubungan Tujuan
Disini tujuan yang dimaksud oleh ruas yang satu ditunjukkan oleh ruas yang ditempati oleh kata penghubung itu. Contoh:
Makanlah obat ini agar segera sakit anda lekas sembuh
Jadi jika digeser kedepan menjadi, Agar sakit anda lekas sembuh, makanlah obat ini.
v  Hubungan perlawanan
Di sini ruas yang ditempati kata penghubung yang bersangkutan menyatakan perlawanan terhadap pernyataan ruas yang lain. Contoh:
Saya tetap ikut dengan kanda sekalipun bumi ini akan meledak
Jadi jika digeser kedepan menjadi, Sekalipun bumi ini akan meledak, saya tetap ikut dengan kanda.
v  Hubungan Perbandingan
Untuk menyatakan suatu perbandingan dapat digunakan kata penghubung seperti, seakan, bagai (kan), serasa,ibarat, laksana, seumpama, seolah, atau boleh juga seolah-olah, seakan-akan. Contoh:
Angkuhnya bukan main, seakan rumah itu punya nenek moyangnya
Jadi jika digeser kedepan menjadi, Seakan rumah itu punya nenek moyangnya, (maka) angkuhnya bukan main.
f.       Ruas utama dan ruas pembantu
Dalam sebuah kalimat, kedudukan ruas itu btidak sama; ruas yang satu lebih tinggi dari ruas yang lain. Jadi, ada ruas yang kedudukanya istimewa, yang memegang peran utama di dalam kalimat itu. Oleh sebab itu, ruas ini pantas disebut ruas utama sedangkan yang lain ruas bawahan. Ruas utama dari kalimat luas berikut ini adalah bagian yang dicetak tebal.
Contoh: Keadaan demikian mencapai puncaknya tatkala suatu hari Raja Rahwana dari Alengka mengirimkan utusan meminta anaknya pula.
Menjadi, Tatkala suatu hari Raja Rahwana dari Alengka mengirimkan utusan meminta anaknya pula, keadaan demikian mencapai puncaknya.
o   Hakikat Ruas utama
Dalam ruas utama inilah terletak pokok pikiran atau inti maksud yang hendak disampaikan oleh penulis. Dengan kata lain, isi kalimat itu seluruhnya terletak disana.
o   Hakikat Ruas Bawahan
Ruas bawahan berfungsi membantu dan menerangkan, agar kalimat luas itu secara keseluruhan merupakan pernyataan yang dapat memberikan kesan yang mantap kepada pembaca. Dilihat dari struktur, ruas bawahan merupakan unsur yang memungkinkan terbentuknya sebuah kalimat luas, yang perlu ada si dalam sebuah alinea.
5.        Kalimat Gabung
Kalimat gabung memiliki pola yang berbeda dengan kalimat sederhana dan berlainan dengan pola kalimat luas. Untuk terampil menulis karangan yang efektif, perlu mengenal beberapa aspeknya, memahami aspek itu, dan kemudian mahir membangkitkan kalimat gabung tersebut.
Bentuk kalimat gabung
Disebut kalimat gabung karena, unsur yang sama di dalam kalimat ini digabung menjadi satu dan melalui proses penggabungan unsur subyek yang kebetulan serupa. Contoh:
Anak itu rajin. Anak itu pandai. Anak itu berkelakuan baik.
Jika digabung, Anak itu pandai,rajin, dan berkelakuan baik.

                                                                                                                                       III.            KALIMAT BERGAYA
Salah satu kenyataan pada penulis yang “baru mulai”, mereka terlalu disibukkan oleh persoalan tentang “apa yang akan dikatakan” didalam karangan mereka. Sedangkan gaya kalimat tidak menitikberatkan persoalan pada “apa yang hendak dikatakan”, tetapi menekankan pada segi “bagaimana mengatakanya”. Hal tentang bagaimana mengatakan itu akan dilihat pada bab berikut:
1.      Penulisan dengan Langgam Berbicara
Dalam mengarang hendaknya, Anda menulis dengan langgam berbicara. Sebab pembaca tidak dibuatnya pasif, tapi mereka seperti diajak omong tentang sesuatu. Pada hakikatnya, mengarang sama halnya dengan berbicara. Mengarang kurang lebih sama dengan berbicara, ahli bahasa menggunakan ungkapan khusus untuk maksud ini “mengarang mewakilkan pembicaraan keatas kertas”. Kalimat tertulis wakil dari kalimat yang diucapkan.
Menulis dengan langgam berbicara sebaiknya mengikuti nasihat Rudolf Flesch “rahasia menulis karangan efektif itu sederhana saja. Bicaralah pada pembaca. Seakan pembaca membaca surat yang anda tulis itu tengah duduk didepan anda”
Pokok persoalan agar membentuk kalimat bertenaga agar tidak terkesan kaku adalah mempelajari gaya kalimat. Dalam gaya kalimat bertalian dengan tiga aspek yakni (1) aspek pemilihan kata, (2) aspek penyingkatan, dan (3) aspek yang menyangkut pola kalimat tertentu.
1.2  Pemilihan Kata
Faktor pemilihan kata turut menentukan tenaga sebuah kalimat. Maka dari itu seorang penulis yang telah berpengalaman mahir dalam memilih kata yang sesuai dan mengoperasikan kata secara kompak. Penulis berpengalaman juga mahir dalam menggoreksi kata yang “impoten” mengganti atau menjadikan kata tersebut mempunyai makna dan tenaga.
a)      Pilihan Kata yang Tepat
Dalam pilih memilih kata, yang penting supaya kata itu benar-benar mewakili apa yang kita maksud. Sering kali kita binggung menentukan sebuah kata yang tepat pada kalimat. Pertanyaan yang dalam hal ini sering ditanyakan adalah “apa tak ada kata lain yang lebih tepat?”. Dan ketika seandainya ternyata ada kata lain yang tepat maka segaralah menukarnya.
b)      Gunakan Kata yang Bertenaga
Ada hubungan erat antara fonem-fonem yang membentuk sebuah kata dengan tenaga kata, seperti kata yang menunjukkan kerja atau gerak, lebih bertenaga dari kata yang menunjukkan benda atau keadaan. Adapula kata yang dibuat lebih bertenaga dengan menggunakan morfem tententu, semisal morfem di dan ter lebih bertenaga pula dari pada morfem ke, ber atau kata yang tidak menggunakan morfem sama sekali. Sementara para penulis Indonesia yang lebih mutakhir, untuk mencapai kalimat yang berkekuatan maksimal, mereka telah menggurangi penggunaan morfem me dalam pemilihan kata.
c)      Hindari Kata Klise
Hindari kata klise, atau yang bisa disebut dengan kata yang sukar dimengerti. Karena pembaca akan mudah bosan, sehingga hindari kata-kata yang sukar dimengerti oleh pembaca. Jangan ragu untuk menggunakan kata seperti gampang, lacur, anjing dan kata tabu lainya, asal penulis menggunakan kata tersebut dengan bijak.
d)     Konotasi dan Denotasi
Kata denotatif adalah kata yang lebih bersifat rasional. Sedangkan kata konotatif adalah kata yang lebih bersifat emosional. Pemberian konotasi apa saja pada sebuah kata dapat membuat kalimat yang dibuat oleh penulis akan bertenaga.
e)      Kata Yang Tidak Familier
Tidak semua kata familier bagi sebagian kalangan masyarakat. Kata familier itu pada umumnya adalah istilah asing atau kata yang berasal dari bahasa daerah. Menempatkan sebuat kata yang tidak familier dalam sebuah kalimat bukannya akan membuat kalimat tersebut bertenaga melainkan bisa dikatakan kalimat tersebut tidak fungsional. Akan tetapi penulis juga tidak bisa menghindari penggunaan kata asing dalam sebuah kalimat, karena sejarah perkembangan bahasa Indonesia modern membuktikan adanya alkulturasi budaya dalam setiap sisi kehidupan. Tak ada salahnya menggunakan kata dengan istilah asing, asal penulis berusaha untuk tidak menimbulkan efek negatif terhadap kalimat sendiri. Ada beberapa ketentuan untuk menghindari efek negatif yang dimaksud. (1) istilah asing dapat digunakan sepanjang istilah Indonesianya belum ada, (2) menyesuaikan ejaanya dengan bahasa Indonesia dan (3) menyesuaikan bentuk kata itu dengan morfologi bahasa Indonesia.

2.2  Penyingkatan
Penyingkatan dapat menghasilkan kalimat yang lebih bertenaga. Mengadakan penyingkatan adalah cara yang efektif untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang efektif dan efisien. Ada tiga macam kategori penyingkatan yaitu pertama, penyingkatan yang bersifat merombak seluruh kalimat. Kedua, penyingkatan kata pada bagian yang dirasa kurang perlu. Dan ketiga penyinngkatan ungkapan yang berkepanjangan.
a)      Penyingkatan kalimat
Lumrah jika kita menjumpai kalimat yang panjang sekali, ini bukanlah suatu persoalan melainkan terkadang diperlukan tindakan penyingkatan kata. Penyingkatan tersebut akan memberikan efek yang baik. Penyingkatan tersebut membantu pembaca untuk memahami dan menangkap gagasan apa yang hendak penulis kemukakan.
b)      Penyingkatan kata
Dalam membuat kalimat lebih bertenaga “menyingkat” habis kata yang kurang perlu juga biasa dilakukan oleh penulis ternama sekalipun. Sasaranya adalah kata yang berlebih, yang kurang jelas fungsinya didalam kalimat.
c)      Pembabatan Pengungkapan yang Berkepanjangan
Pengungkapan yang berkepanjangan seringkali menyebabkan sebuah kalimat kurang bertenaga, sehingga terkadang perlu untuk menggubahnya menjadi bentuk yang lebih singkat dan padat. Terkadang dalam sebuah kalimat mempunyai kontruksi kata yang tidak salah, akan tetapi suatu kalimat yang mempunyai kontruksi yang tidak salah belum tentu kalimat tersebut efektif. Seperti contoh “mempunyai keluhan” akan lebih baik menggunakan kata “mengeluh”. Sehingga penyingkatan tersebut dapat membangun kalimat menjadi kalimat yang bertenaga dan efektif.

3.2  Pola yang Efektif
Pola yang efektif sebetulnya tidak ada, yang ada adalah cara yang efektif dalam mengisi pola itu, guna merangkaikan maksud menjadi jelas. Seorang penulis yang efektif menguasai banyak cara untuk menonjolkan unsur yang dirasanya penting dalam kalimatnya.
a)      Pararelisme
Dalam kalimat yang efektif, gaya pararelisme menempatkan unsur yang setara dalam kontruksi yang sama, misal;
Jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasai
Seorang penulis yang efektif biasanya pintar memanfaatkan gaya pararelisme untuk membuat kalimat mereka indah dan menyenangkan, sebaliknya kalimat yang tidak memperdulikan keselarasan dan keselarian akan terasa canggung dan mungkin mengaburkan pengertian.
b)      Repetisi
Repetisi adalah kekuatan sebuah kalimat yang dapat dibangkitkan dengan mengulang sebuah kata yang dianggap penting dalam bagian kalimatnya. Akan tetapi tidak seluruh pengulangan itu dapat dikatakan repetisi yang efektif jika berkali-kali diulang sehingga menghasilkan kalimat yang lemah dan tidak menarik.
Contoh: Mengarang sebuah buku agama berbeda syaratnya dengan mengarang buku cerita fiksi.
c)      Inversi
Struktur urutan inversi adalah predikat + subyek. Artinya, dalam pola dasar kalimat itu predikatnya muncul lebih dahulu, lalu dibagian belakangnya muncul subyek.
Contoh: Sudah berkali-kali tersiar namanya dalam surat kabar ibukota.
Seharusnya menurut pola dasar kalimat tersusun, namanya tersiar. Akan tetapi, guna mencapai efek yang lebih besar, penulis dapat membalikkan polanya itu menjadi tersiar namanya.

                                                                                                                                 IV.             KALIMAT BERVARIASI
Kalimat yang efektif itu bervariasi. Pada sebuah alinea, kalimat yang bervariasi itu merupakan’’santapan’’ yang menarik dan nikmat. Kalimat itu dapat meriangkan pembaca, bukan saja karena memahaminya mudah, tetapi terutama karena sifatnya yang menyenangkan.
Macam-macam variasi kalimat
1.      Variasi dalam cara memulai
Kalimat pada umumnya dapat dimulai dengan, Subyek, predikat, sebuah kata modalitas, sebuah frase, sebuah klausa, dan penekanan yang efektif. Penulis yang berpengalaman menggunakan cara di atas untuk menghasilkan alinea yang kalimat-kalimatnya bervariasi.
a.       Memulai Kalimat dengan Subyek
Subyek biasanya terletak pada bagian depan dalam sebuah kalimat. Banyak dipakai dalam pemakaiaan bahasa sehari-hari dan merupakan cara yang umum di dalam memulai sebuah kalimat.
            Contoh: Mencari kekayaan bukanlah hal yang tidak halal.
b.      Memulai kalimat dengan predikat
Untuk menciptakan variasi dalam sebuah alinea, dapat mengawali kalimat dengan predikat. Artinya, selain mengawalinya dengan subyek atau dengan cara lain, dalam menciptakan variasi dapat melakukanya dengan membalikkan predikat ke depan dalam sebuah kalimat. Kalimat yang dimulai dengan predikat juga tak kuran keefektifanya, lebih-lebih untuk keperluan variasi.
c.       Memulai kalimat dengan sebuah kata modal
Untuk memberikan variasi kalimat dalam sebuah alinea, penulis dapat menggunakan sebuah kata modal untuk mengawali kalimatnya.Sebuah alinea niscaya akan lebih menarik bila didalamnya terdapat sebuah kalimat atau lebih yang dimulai dengan kata modal di samping kalimat yang diawali dengan subyek atau cara lain.
Contoh: Agaknya persoalan itu akan cepat selesai kalau yang berwajib ikut turun tangan.
d.      Memulai kalimat dengan sebuah frase
Kalimat yang diawali dengan sebuah frase dapat pula digunakan untuk keperluan variasi di dalam sebuah alinea.Kalimat yang dimulai dengan frase itu bisa ditempatkan pada permulaan alinea, ditengah atau pada bagian akhir kalimat.
Contoh: Sambil menghapus air mata, anak itu terus membuntuti ibunya.
e.       Memulai kalimat dengan sebuah klausa
Memulai kalimat dengan sebuah klausa termasuk salah satu cara pula untuk menciptakan adanya variasi. Seperti juga sebuah frase, sebuah klausa pun dapat menempati posisi awal sebuah kalimat. Sebuah klausa hanya ditemui di dalam kalimat luas, dan tidak memperhatikan  apakah letaknya di depan, di tengah, atau dibelakang.
Contoh: Seandainya manusia tiada berbahasa, alangkah sunyinya dunia ini.
f.       Memulai kalimat dengan penekanan yang efektif
Kalimat yang dimulai dengan subyek, merupakan kalimat yang sangat komunikatif, mudah dipahami, dan memikat. Kalimat yang selalu diawali dengan subyek menandakan ada efek lain yang ingin dikejar oleh penulisnya. Walaupun ini tampaknya bertentangan dengan prinsip-prinsip variasi, tetapi untuk mencari keefektifan sebuah kalimat, tidak ada salahnya.
Contoh: Kita sudah menyadari bagaimana eratnya hubungan antara ‘’buku’’ dan ‘’membaca’’.

2.      Variasi dalam panjang-pendek kalimat
Variasi kalimat bisa pula diusahakan dengan sekaligus mempekerjakan kalimat pendek dan kalimat yang agak panjang di dalam sebuah alinea. Kalimat pendek dan kalimat panjang mempunyai nilai tersendiri. Kerja sama kedua jenis kalimat yang berbeda ukuran ini biasanya dapat menghalau kejemuan, keletihan, dan sebaliknya bisa memberikan tenaga yang memikat juga.
Contoh: Membiasakan punya buku harian itu baik sekali. Kita dapat mengisinya secara teratur dengan memasukkan butir-butir pengalaman hidup kita.
a.       Keefektifan kalimat singkat
Kalimat singkat biasanya bertugas menyatakan penegasan atau kepastian. Terutama dalam karangan yang bersifat argumentatif, fungsi kalimat itu jelas sekali. Bila ada suatu sikap yang perlu ditegaskan, atau suatu kepastian yang perlu dinyatakan, kaliamat singkatlah yang melaksanakanya.
Contoh: Bagaimana seorang pengarang bisa sukses? Seorang pengarang yang berhasil ialah pengarang yang sanggup menanamkan disiplin yang kuat atas diri dan jiwanya sendiri terhadap dorongan-dorongan yang datang dari luar.
Jadi, Bagaimana seorang pengarang bisa sukses?.Itu merupakan kalimat singkat yang memberikan penegasan.
b.      Keefektifan kalimat panjang
Kalimat panjang harus memberikan penekanan,uraian,ulasan, analisa, detil, alasan tertentu, data dan lain sebagainya.Kalimat panjang berfungsi untuk memperjelas, memerinci, supaya segala sesuatunya menjadi lebih baik terang serta meyakinkan.
Contoh, kalimat panjang dalam bentuk penekanan:
Dan saya yakin bahwa kebenaran dan kebahagiaan akan semerbak di dunia ini.

3.      Variasi dalam struktur kalimat
Adanya struktur kalimat dalam sebuah alinea juga besar artinya dilihat dari sudut variasi. Alinea yang demikian besarnya lebih menyenangkan, tidak seperti membaca alinea yang struktur kalimatnya sama semua. Oleh sebab itu, penulis yang efektif sangat memperhatikan pola kalimat yang terdapat dalam alinea mereka. Kalimat yang efektif mencerminkan keragaman struktur dan di dalamnya dapat dijumpai kalimat sederhana, kalimat luas, dan kalimat gabung.

4.      Variasi dalam jenis kalimat
Menurut para ahli tata bahasa, mereka membedakan kalimat atas empat jenis. Pertama, kalimat yang berfungsi memberitahukan sesuatu baik informasi secara langsung maupun tidak langsung, disebut kalimat berita. Kedua, kalimat yang fungsinya menyatakan kehendak, keinginan, harapan, dan sebagainya disebut kalimat pinta. Ketiga, kalimat yang menyatakan pertanyaan, dinamakan kalimat tanya. Keempat, kalimat yang berfungsi menyatakan perasaan yang kuat, bernama kalimat seru.




           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar